Senin, 31 Desember 2012

Kalau Malam Ini

Kalau malam tepat setahun yang lalu saya sedang membakar sepanci adonan kue pukis, malam ini saya ngepel kamar kosan dan ganti seprai. Kalau tahun lalu saya makan entah-apa-saja-pokoknya-banyak dan bareng sama keluarga, malam ini saya menikmati sendiri makanan pesan antar dari rumah makan dekat kosan. Kalau tahun lalu saya menikmati kembang api dari berbagai penjuru di lantai teratas rumah tante, malam ini (jika bisa) saya nikmati dengan tidur nyenyak saya sudah sangat bersyukur.

Besok matahari tetap terbit dari barat dan tetap menyinari bumi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Bagian matahari yang akan kita lihat besok sama dengan bagian matahari yang kita lihat di tanggal yang sama setahun yang lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Walaupun kita tidak akan pernah bisa membedakan bagian matahari mana yang sedang menyinari kita.

Jadi, walau sebeda apapun yang kau lakukan malam ini dengan malam setahun yang lalu, kau akan tetap bertemu dengan bagian matahari yang sama besok pagi.




Sabtu, 22 Desember 2012

22 Desember

22 Desember 2012

Sudah tiga hari ini mereka bolak-balik ke sini. Yang perempuan, belum pernah sekalipun ku lihat wajahnya tersenyum. Bahkan wajahnya lebih sering terlihat sendu bergantian dengan cemas. Yang laki-laki, entahlah, susah membaca ekspresinya walaupun sekali-sekali terlihat cemas. Belum sampai dua tahun mereka tinggal di kota ini, iya, mereka berdua anak rantau. Menuntut ilmu sampai jadi sarjana, mungkin itu yang ada di benak masing-masing saat memutuskan ke kota ini. 

Saya tidak pernah menghitung sudah berapa pasang anak muda seperti mereka yang datang ke sini. Ada juga perempuan yang datang cuma seorang diri, pasangannya tidak ikut. Saya ingat beberapa bulan yang lalu seorang perempuan muda datang ke sini seorang diri. Saat saya tanya mana pasangannya, dia cuma bilang kalau pasangannya sibuk " Lagi ada ujian di kampus Bu!" begitu katanya . Dia juga cuma datang sekali, setelah itu tidak pernah lagi kembali. Atau sepasang anak muda yang datang dua minggu lalu. Yang perempuan tidak henti-hentinya menangis tersedu-sedu sementara pasangannya cuma bisa menenangkannya tapi tentu saja tidak berhasil.

Sudah 3 tahun saya di sini, melihat banyak pasangan datang dan pergi. Banyak yang datang dengan wajah yang sedih namun tidak sedikit yang datang dengan wajah penuh harap. Berharap bisa menemukan malaikat yang bisa mereka bawa pulang dan menghujani mereka dengan cinta dan kasih. Hal yang tidak bisa dia lakukan pada anak kandung mereka sendiri. Tidak jarang saya menangis haru ketika seorang anak bisa menemukan keluarga baru mereka. "Semoga kau selalu dilimpahi kasih sayang nak", itu salah satu doaku dalam hati ketika melepas seorang anak kepada keluarga barunya. 

**
17 Maret 2012

"Pokoknya aku nda bisa kalau harus gugurin anak ini. Nyawaku juga taruhannya! Bukan cuma anak ini yang hilang, aku juga bisa mati!" ucap perempuan itu dengan suara yang hampir terdengar seperti teriakan.
"Sssttt... ga usah teriak-teriak ngomongnya. Atau sekalian aja kamu umumin sama semua orang di kos ini" ucap sang laki-laki tidak kalah emosi namun dengan suara yang lebih pelan.
"Trus kita harus bagaimana sekarang? Mamaku bisa kambuh penyakit jantungnya kalau tahu anaknya hamil begini. Papaku pasti langsung nyeret aku pulang, masih untung kalau dia tidak bunuh aku nanti!" perempuan itu mulai terisak kembali.
"Pasti ada tempat yang bisa gugurin dengan aman. Aku juga ga bisa kasih tau orang tuaku!" sahut sang pria.
"Gila kamu!" hardik sang perempuan.
Ia kemudian keluar kamar sambil menangis. Sambil berlari meninggalkan laki-laki itu yang tidak kalah kalut dengan dirinya namun tanpa air mata.

**

26 November 2012

"Nina bobo oh nina bobo, kalau tidak bobo digigit nyamuk" seorang ibu sedang bersenandung untuk menidurkan anaknya. Sambil menyusui, ia berkali-kali mengulang lagu itu dengan lirih.
Ia terus-menerus memandang anaknya yang sudah mulai memejamkan matanya kembali. Waktu di kamar kosnya menunjukkan pukul 3.15 pagi. Kurang dari lima jam lagi ia harus mengikuti ujian pertama untuk semester ini. Dia tidak berharap banyak akan bisa menjawab pertanyaan ujian dengan baik. Bisa lulus dengan nilai pas-pasan saja mungkin dia sudah lega. Lega? Entahlah apa itu bisa membuatnya lega. Sepertinya, apapun yang dia lakukan tidak akan pernah membuatnya lega sekarang.

Awalnya Ia berencana akan langsung menyerahkan bayinya untuk diadopsi ketika lahir. Namun, saat pertama kali melihat bayinya matanya langsung berkaca-kaca. Ia bahkan meminta bidan yang membantunya bersalin untuk melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) pada anaknya. Iya, dia tahu teori tentang IMD dari materi kuliah di kampusnya dan beberapa kali membaca di internet. Saat itu dia tidak memikirkan apa-apa selain ia sangat menyayangi anaknya. Ia berjanji akan membesarkan anaknya walaupun harus seorang diri.

Pukul 07.30, ia dan bayinya terlihat sudah rapi. Setelah memastikan semuanya ia kemudian keluar kamar lalu mengetuk pintu kamar kos temannya. "Iya, sebentar!" sahut temannya.
"Aku jadi nitip anakku ya. Ujianku nanti cuma sampai jam sepuluh kok. Jadi paling lambat setengah sebelas aku sudah nyampai kos lagi. Semua keperluannya sudah kusiapin kayak biasa" katanya sambil menyerahkan bayinya kepada temannya.
"Oke, sukses ya ujiannya" jawab temannya.
Setelah memberi kecupan di kedua pipi bayinya, ia kemudian berlekas pergi.

**
20 Desember 2012

"Mas sama mba baca dulu aja ini supaya tau surat-surat apa saja yang harus dibawa nanti. Kami ga bisa terima kalau ada salah satu persyaratan itu yang kurang" jelasku kepada pasangan muda yang ada di hadapanku. Bayinya tidak dibawa, katanya dititipkan ke teman kos si perempuan.
Sudah satu jam lebih saya mewawancarai mereka. Wawancara yang susunan pertanyaan sudah saya hafal di luar kepala. Sebagian besar pertanyaan dijawab dengan ragu-ragu oleh mereka. Dan sebagian besar dijawab oleh si perempuan. Laki-lakinya cuma banyak diam atau hanya mengiyakan pernyataan si perempuan.

"Mb yakin anaknya mau diserahkan? Padahal sudah dua bulan loh mb rawat dia. Ga kasihan sama anaknya?" tanyaku pada si perempuan. Ia kembali terdiam, terlihat kembali genangan air di pelupuk matanya. Yang laki-laki pun kembali menunduk, kembali menghindari kontak mata dengan saya.
"Coba mb pikir lagi baik-baik. Saya sarankan kalian berdua kasih tau dulu orang tua kalian. Memang ada harga yang harus kalian bayar. Saya cuma tidak mau kalian menyesal di kemudian hari."
"Kalau memang kalian tetap anak kalian diadopsi karena belum bisa merawat sendiri, akan lebih baik kalau keluarga sendiri yang mengadopsinya. Siapa tahu ada keluarga kalian yang bersedia mengadopsi, jadi kalian tidak akan putus hubungan dengan anak kalian sendiri"

19 Desember 2012

"Besok temani aku ke Panti Asuhan. Aku mau nyerahin bayi kita untuk diadopsi" ujar sang wanita. 
"Baiklah, harusnya sejak dua bulan lalu kamu lakukan ini jadi kamu ga harus bingung-bingung kayak kemarin." jawab si laki-laki.
"Dua hari yang lalu orang rumah nelpon aku, katanya mama kambuh lagi jantungnya. Sekarang ada di rumah sakit" katanya dengan nada yang cemas. "Aku disuruh pulang secepatnya. Tapi bagaimana aku bisa pulang dengan kondisi kayak gini. Awalnya aku kira aku akan baik-baik saja dan akan memberitahu keluarga di rumah tentang anak kita kalau waktunya sudah tepat. Namun ternyata tidak ada waktu yang tepat"
"Aku sudah mikir dua hari ini, mungkin ini yang terbaik buat dia nanti" ujarnya sedih.

**
22 Desember 2012

Saya menggendong seorang bayi kecil yang montok yang baru saja diserahkan oleh perempuan yang membawanya. Wajahnya sangat lucu dan menggemaskan, mirip dengan laki-laki yang datang untuk menyerahkannya. Dia sangat tenang dan tidak rewel saat diserahkan perempuan itu, bayi yang sabar celetukku dalam hati.
"Bu, dia kalau tidur sukanya dibedong. Dia juga suka ngempeng bu" ujar sang perempuan kepada saya. 
"Wah, kamu suka ngempeng ya... Iya ya?" sambil memandang, saya mencoba berkomunikasi dengan bayi mungil ini. Bayi itu cuma terus memandang, ambil sesekali mengedip dan menggapai-gapaikan tangannya.
"Tunggu bentar ya..." kataku kepada pasangan muda ini.

Saya kemudian masuk untuk menyerahkan bayi mungil ini kepada petugas lain yang sedang menjaga anak-anak lain. Setelah itu kembali keluar untuk menemui mereka.

"Sesuai prosedur di sini, kami berikan waktu kalian seminggu untuk berpikir kembali apakah akan mengambil kembali anak ini atau tidak. Kalau tidak ada kabar dari kalian selama seminggu dari sekarang, maka anaknya akan bisa diadopsi oleh keluarga yang menginginkannya" kataku."Coba kalian pikirkan lagi benar-benar"

Setelah menandatangani semua surat-surat yang diperlukan, mereka berdua pamit. Mata perempuan itu masih tampak berkaca-kaca. Saya baru sadar kemudian bahwa hari ini ternyata bertepatan dengan peringatan hari Ibu, ironis sekali rasanya. Saya berdoa dalam hati semoga seminggu dari sekarang mereka akan kembali lagi ke sini. Semoga Ya Allah.

***

*Terinspirasi dari kisahnya yang kutemui hari ini 
*Nama yang digunakan bukan fiksi, karena tidak ada nama yang terucap di sini

Senin, 10 Desember 2012

Jalan-jalan Ke Paotere

Kalau sedang main-main ke Makassar dan tertarik dengan pasar tradisional, silahkan berkunjung ke Paotere. Pelabuhan yang juga kini telah menjadi pasar hasil laut yang terletak di derah Ujung Tanah ini telah memulai aktivitasnya sebelum matahari terbit.

Sunrise view from Paotere

Aktivitas di Pelabuhan Paotere pada pagi hari

Berbagai jenis hasil laut bisa kita beli di sini dengan harga yang lebih murah dan tentu saja kesegaran yang terjamin karena baru ditangkap malam sebelumnya. Namun, pembelian di sini memang harus dilakukan dalam jumlah yg cukup banyak karena biasanya orang-orang yang membeli memang bertujuan untuk dijual lagi. Atau kalau tidak, untuk yg berbelanja untuk rumah makan seafood atau stok di rumah dalam jangka waktu yg tertentu (seperti saya).

Ikan-ikan ukuran kecil dijual per keranjang

Udang berbagai jenis dan ukuran dijual di Paotere

Baronang, kakap, teri, lemuru, cakalang, layang adalah sedikit dari banyak jenis ikan yang bisa ditemukan di Paotere ini. Selain itu juga ada cumi-cumi, sotong, udang, dan kerang. Selain hasil laut, ada juga hasil tambak yang dijual di sini seperti bandeng dan udang galah. Untuk harganya, pintar-pintar saja menawar ;) tapi saya jamin harga seafood di sini relatif murah dibanding harga di pasar-pasar lain di Makassar.

Nah, bagi pelancong jika Anda sudah puas melihat-lihat isi pasar, Anda bisa ke rumah makan Paotere yang terletak di seberang pasar. Sajian seafood yang diolah dengan cara khas Makassar tersedia di rumah makan tersebut. Harganya juga lebih murah dibanding restoran seafood lain di Makassar.

So, baik untuk sekadar mengabadikan foto-foto pelabuhan dan pasar ikan atau untuk berkuliner masakan seafood khas Makassar, Paotere tempat pas untuk Anda kunjungi.

Hasil perburuan di Paotere setelah diolah. Sepanci cuma Rp 20ribu ;)


Senin, 15 Oktober 2012

Cerita Kosan

Saya selalu memimpikan punya kamar kosan yang ada balkon pribadi dengan pemandangan yang indah. Iya, itu memang hanya sekadar mimpi. Pertama, punya kamar kosan dengan balkon pribadi pastilah tidak murah. Dua, hmm... Itu aja sih satu alasannya, mwahahahh.

Semenjak jadi anak kos tahun 2006 (ebusetttt... lama siah!), saya baru mencoba 2 kosan. Yg pertama saya tempati selama 4 tahun dan yang kedua yang mulai saya tempati di tahun ke 5 sampai sekarang. Kosan pertama saya cukup besar (bangunannya, kamar saya mah kecil) dengan 30 kamar. Jadi, kosan saya yang pertama cukup ramai. Kadang malah keramaian sampai pernah ditegur tetangga. Huehehehh.

Tahun 2010, saya memutuskan untuk pindah kosan. Alasannya? Mencari yang lebih murah. Hahahh. Akhirnya, saya dapat kosan yang memang lebih jauh dari kampus dibanding kosan saya yang pertama. Toh, ada kendaraan ini jadi tidak masalah juga saya rasa. Walaupun lebih murah, tapi kamar kos saya yg sekarang lebih luar dengan fasilitas kamar mandi pribadi. Memang sih, bangunannya tidak sebagus kosan yang pertama tapi saya rasa cukup lumayan dengan harga yg saya bayar. 

Selain kamar yang lebih luas, salah satu alasan saya menyukai kosan saya yang sekarang adalah tempat jemuran. Outdoor, luas, dan pemandangan yang lumayan. Entah kenapa, saya suka sekali dengan tempat jemuran di kosan yang sekarang. Terletak di lantai tiga dan merupakan atap bangunan kosan. Tidak jarang saya ke tempat jemuran hanya untuk membaca kalau sumpek dengan pemandangan di kamar kosan tapi sedang malas keluar. Selain banyak angin, jika sedang cerah kita juga melihat pemandangan gunung Merapi dan merbabu dengan cukup jelas di sebelah utara. Bahkan bukit-bukit yang berada di sekitar Jogja juga bisa terlihat. Suka dengan pemandangan senja? Pemandangan dari tempat jemuran ini juga lumayan cantik. Ya walaupun sedikit terhalang dengan kabel listrik, tapi saya cukup senang menikmati senja di sini. Menghadap ke timur di awal pagi, kita juga bisa melihat matahari yang mulai muncul.

                                           
Pemandangan (ciye, pemandangan) dari tempat jemuran kosan


               
Sama, masih dari tempat jemuran kosan
                                                              
Intinya, saya cukup betah dengan kosan saya sekarang dengan banyak kekurangannya mungkin bisa dibilang karena tempat jemuran itu. Hahahh.

Btw, bisa nebak ga kira-kira dari dua foto di atas, yang mana pemandangan sunrise yang mana sunset?

Rabu, 10 Oktober 2012

Merapi, 3 Tahun Kemudian

Akhir pekan kemarin, saya dan teman-teman penikmat alam lain main ke Merapi setelah lebih dari setahun tidak naik gunung. Pendakian kemarin ramai sekali (ya karena memang ikut pendakian bersama yang diadakan fakultas tempat saya membuang duit), diikuti sekitar 28 orang dan untungnya bukan saya yang paling senior, mwahahahh.

Ini kali kedua saya naik gunung Merapi, pertama kali sekitar 3 tahun lalu. Saya memang penasaran sekali ingin naik gunung ini lagi. Penasaran ingin lihat bagaimana kondisinya setelah terjadi erupsi pada akhir tahun 2010 kemarin. Jumat malam, 5 Oktober 2012, saya tiba di basecamp. Ruameeee sekali, ternyata banyak yang akan mendaki Merapi malam itu. Sekitar pukul 22.00, saya bersama tiga teman yang lain memutuskan untuk jalan duluan, bukan bermaksud "ninggalin" teman yang lain tapi sadar diri kalau jalan saya lambat, ehehehh.

Jalan, jalan, istirahat, jalan, benerin backpack, jalan lagi, istirahat lagi, jalan, jalan, dan seterusnya. Setelah kurang lebih berjalan 3 jam dan sempat galau, akhirnya kami memutuskan untuk nge-dome di sekitar pos 2. Setelah mendirikan dome, bikin minuman hangat (eh, bikin ga sih? lupa), akhirnya berserah diri pada kelelahan. Dan... dome untuk dua orang kami jejali untuk berempat, huahahahhh.

                                                Dome tetangga selalu lebih hijau merah

Seperti biasa, kalau lagi naik gunung gini pasti saya yang paling terakhir bangun *bangga*. Lihat sunrise? Oh tentu tidak, secara mendung dan posisi kami memang ga pas buat liat sunrise. Tapi pemandangannya mah tetap bagus. Pemandangan, mungkin ini yang bikin saya ga kapok-kapok naik gunung. Kalau malam, bisa liat pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian, kalau pagi bisa liat awan-awan menggantung dan sejajar dengan kita. Ahhh... indahnya.

Setelah sarapan dan beres-beres kami pun melanjutkan perjalanan. Karena siang itu kondisinya cukup berawan, gunung tetangga yang biasanya terlihat cukup jelas, cuma mengintip malu-malu di balik awan. Gunung Sumbing dan Sindoro juga hanya mengintip samar-samar. 

                                                              Peeking Merbabu 

Dan... sampailah kami di pasar Bubrah, pos terakhir sebelum menuju puncak Merapi. Setelah erupsi tahun 2010, jalur ke puncak Merapi berubah. Jadi lebih sadis kalau menurutku. Seingatku, dulu tidak ada pakai acara merangkak dan jatuh bangun, ughh :(. Perjalanan pun jadi lebih lambat, ya gimana ga lambat kalau setiap naik 2 langkah kemudian terperosok 1 langkah. Setelah berjalan merangkak satu jam lebih, akhirnya sampai juga di puncak. Dan benar saja, puncaknya berubah banget, nget. Tidak ada lagi acara lari-lari dan nari-nari di puncak. Boro-boro, salah langkah dikit bisa bikin terperosok dalam kawah yang menganga sangat lebar. Kondisinya kurang lebih seperti di bibir kawah gunung Bromo tapi lebih sempit dan lebih menyeramkan.

Pasar Bubrah

Kawah Merapi

Sewaktu naik ke puncak Merapi sembari gaya laba-laba nemplok dinding, saya mikir "... Ini ntar turunnya gimana? :((" Hahahhh. Ternyata turunnya tidak seseram yang kubayangkan, malah seru! Errr... seperti meluncur dari salju (kayak pernah aja sih Wa!) tapi minus alat plus batu+pasir+debu nya panas. Seruuu!

Ya gitulah pokoknya. Cerita turunnya biasa saja sih, ga ada yang seru kecuali saya beberapa kali jatuh, ha!
Buat teman-teman yang mau naik Merapi, jangan lupa pakai masker. Ya kecuali memang sengaja mau bernapas dalam debu. Bawa persediaan air yang cukup karena sama sekali tidak ada sumber air selama perjalanan. Jangankan perjalan, di bawah (sebelum naik) saja susah sekali air bersih. Kata ibu yang jaga warung di New Selo, semenjak erupsi memang air bersih susah :(. Ah, semoga keadaan di sana segera membaik.

                                                         

Sabtu, 21 Juli 2012

Sahur

Siapa di sini yang pernah kesiangan trus ga sahur? Nah, saya ga akan bahas bagaimana caranya biar ga bangun kesiangan pas sahur, muhahahh.

Bagi yang ga masak buat sahur *biasanya anak kosan* atau masak tapi cuma mie instan, tips ini tidak berlaku buat Anda sekalian. Berikut beberapa tips untuk mengefisiensikan waktu memasak hidangan sahur Anda dari pakar yang tadi pagi ga sahur, muhahahh.

  1. Persiapkan bumbu masak. Apalagi kalau mau masak2 heboh yang bumbunya 20 macam, ada baiknya bumbunya sudah siap. Lebih mantap lagi kalau bumbunya sudah jadi (err... bumbu instan juga dimaafkan) tapi kalau sudah dikupas dan dibersihkan juga sudah lumayan. 
  2. Kalau mau masak daging, ayam, ikan, dan lauk hewani lainnya, jangan lupa pindahkan bahannya dari freezer ke kulkas. Selain karena memang proses thawing yang benar memang seperti itu (jika proses pembekuannya lambat, maka proses thawingnya juga harus lambat) juga biar Anda ga makan daging mentah kalau Anda telat bangun buat masak :D
  3. Kalau mau bikin sebangsa perkedel (kentang, jagung, tempe, tahu, atau apa saja), adonannya bisa dipersiapkan di malam hari trus simpan di kulkas. Jadi, nanti tinggal di goreng deh pas mau sahur.
  4. Untuk beberapa jenis sayur, boleh dipotong-potong atau dipetik duluan trus tinggal disimpan di kulkas biar nanti tinggal dicemplungin ke masakan. Tapi ada juga jenis sayur yang ga cocok dipotong duluan, misalnya: kentang dan terong yang bisa menghitam kalau kelamaan kena udara trus ga cantik lagi pas dimasak.
  5. Jangan lupa masak nasi sebelum pergi tidur!
Selamat mengamalkan tips di atas. Semoga berguna dan menambah amal ibadah Anda di bulan ramadan karena bisa menyiapkan hidangan sahur buat keluarga rumah.

Rabu, 27 Juni 2012

#Resep Pacco


Kuliner ini adalah salah satu sajian khas daerah ortu. Disajikan dari ikan teri segar (juku mairo kalau kata orang Makassar) dan diolah dengan sangat sederhana , mungkin hampir mirip lawar di Bali. Sebenarnya juga hampir mirip dengan lawa' ikan yang juga berasal dari daerah yang sama namun bedanya, pacco tidak menggunakan kelapa goreng dalam pengolahannya. Maaf ya, resep berikut tidak akan ada takarannya, muahahahh. Semua terserah selera pembuat. So, ini resepnya:

Bahan:
  1. Ikan teri segar
  2. Jeruk nipis
  3. Jeruk sambel
  4. Lombok kecil (sesuai selera)
  5. Kacang tanah goreng
  6. Garam
Cara Membuat:
  1. Bersihkan ikan teri dari kepala dan tulangnya. Lalu cuci kembali dengan air matang.
  2. Tambahkan perasan air jeruk nipis ke ikan yang sudah bersih, sisihkan.
  3. Ulek lombok, kacang tanah, dan garam. Bisa ditambahkan penyedap rasa jika suka.
  4. Peras ikan yang sudah disisihkan tadi sampai air jeruk nipisnya hilang.
  5. Tambahkan bumbu yang sudah diulek ke dalam ikan dan tambahkan jeruk sambel. Aduk sampai rata. 
Tips:
- Ikan teri yang digunakan harus benar-benar segar, baru naik dari lautlah kalau bisa. Jika ikannya kurang segar, ikan akan amis dan mudah hancur.
- Perasan jeruk nipis yang digunakan agak banyak. Selain untuk menghilangkan bau amis, air jeruk nipis juga berfungsi untuk membunuh bakteri yang ada di ikan.

Kalau di daerah asalnya, hidangan ini biasanya disantap dengan dange, yaitu sagu yang sudah dibentuk menyerupai papan tipis lalu dibakar . Namun, dimakan dengan nasi hangat juga ga kalah nikmat. Atau dimakan begitu saja juga lezat, ga kalah sama sashimi (padahal belum pernah coba sashimi =D). Selamat mencoba.

Sabtu, 23 Juni 2012

Cerita Tiga Gadis Belia

*situasi: di dapur. Sepupu lagi sibuk dengan ikan dan saya membantu dengan doa"

Sepupu : "Tau nda mereka ( 3 org karyawan yg kerja di warungnya) umurnya kira-kira berapa?"
Saya : "Hmm.. 18-an tahun?"
Sepupu : "Hahah... Salah, ada yang seharusnya masih kelas 1 smp!"
Saya : "Ebuset..."
Sepupu : "Terus yang dua orang itu sudah punya anak"
Saya : *menganga*

Dan percakapan pun terus berlanjut.

Jadi, kakak sepupu saya memperkerjakan tiga org (yg saya kira masih) gadis untuk membantunya mengurus warung makannya. Iya, awalnya saya memperkirakan mereka berumur 18-20 tahun dan ternyata saya salah. Jika mereka masih sekolah, kata sepupu saya, mereka mungkin kelas 2 SMA (A), 3 SMP (B), dan 1 SMP (C). Belum habis kaget saya, ternyata dua orang dari mereka, si A dan B, sudah mempunyai seorang anak masing-masing berusia 9 dan 6 bulan dan entah suami mereka sekarang dimana. Si A yang anaknya diare karena ternyata diberi susu kental manis, " karena satu kaleng sudah jadi banyak botol susu" kata dia. Ada lagi cerita yang bikin tambah miris (tapi juga jadi ingin ngakak). Si B yang berkenalan dengan suaminya melalui facebook, setelah bertemu kemudian keesokan harinya langsung melaksanakan ijab kabul. *pingsan*

Beda lagi dengan si C. Sebenarnya orang tuanya cukup mampu untuk membiayai sekolahnya tidak seperti yang dialami si A dan B. Namun, karena si C tidak mau lagi dikatakan anak kecil dan anak sekolah maka dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Dan katanya sudah ada yang mau lamar buat diajak nikah. *wajah poker*

Miris-miris menggelikan ya? Saya sampai tidak habis pikir kenapa bisa ada kejadian seperti itu, iya tapi itu nyata dan banyak sekali terjadi di sekitar kita. Salah anak? Salah orang tua? Salah pemerintah? Ah, paling gampang dan enak memang kalau menyalahkan. Ada gadis belia yang mungkin belum tahu apa-apa tentang bayi, abg yang merasa dewasa sebelum waktunya, bayi yang seharusnya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, orang tua gadis yang harus menjaga cucu selama anak mereka bekerja. Saya cuma bisa melongo dan menuliskan cerita mereka di blog ini.

Kamis, 21 Juni 2012

Foto Hari Ini : Texting Like A (stupid) Boss!


Lokasi : Jl. Dr. Sam Ratulangi, Makassar
Waktu : Pkl. 14.30 WITA
Nomor plat motornya1136-13 (Ya kale ada temannya si Polisi yg baca, biar ngasih tau tuh temannya)

Sewaktu perjalanan pulang dari arah Karebosi, saya melihat kejadian di atas. Seorang polisi yang mengendarai motornyanya sambil ber-sms ria. Cukup lama saya rasa polisi itu dengan kondisi seperti itu. Bayangkan saja, saat awal saya melihatnya (kemudian mengumpatinya dengan cukup kencang!) ada jeda waktu beberapa saat untuk saya mengeluarkan kamera dari tas kemudian mengambil foto di atas.

Ini bukan kali pertama saya melihat seorang polisi berbuat demikian. Sewaktu di Jogja, saya juga pernah sekali melihat kelakuan seperti itu *double sigh!. Orang-orang yang seharusnya menjadi contoh yang baik untuk masyarakat malah jadi contoh untuk iklan layanan masyarakat perihal -JANGAN DITIRU-!

Jumat, 15 Juni 2012

Don't Judge The Book by Its Movie

Tadi sore saya ke Benteng Rotterdam, sedang ada event Makassar International Writers Festival 2012 di sana. Iseng-iseng saja saya ke sana, setelah kemarin malam melihat jadwal acara di sini. Diskusi panel dengan judul "Don't Judge The Book by Its Movie" cukup menarik perhatian sehingga akhirnya saya memutuskan untuk ikut.



Sewaktu saya tiba, moderator, Riri Riza, sedang mengenalkan narasumber satu per satu. Ada Akmal N. Basral, Ahmad Fuadi, Ahmad Tohari, dan Ichwan Persada. Dari lima orang yang ada di panggung, hanya tiga nama yang sudah tidak asing bagi saya. Riri Riza, siapa yang tidak kenal sineas yang satu ini :D. Kemudian Ahmad Tohari, yang saya kenal melalu novel "Ronggeng Dukuh Paruk"-nya dan Ahmad Fuadi yang juga seorang novelis yang juga saya baca karyanya, Negeri Lima Menara (dan entah dimana novelku yang satu :( ). Dua orang lainnya yang belakangan baru saya tahu setelah mengikuti diskusi tadi. Diskusi tadi membahas tentang novel yang difilmkan dan film yang dinovelkan.

Untuk film yang dinovelkan mungkin tidak akan saya bahas karena jujur saya belum pernah baca novel yang bersumber dari film. Padahal menurut Akmal, beda loh... Hehehh.

Saya adalah salah satu dari mungkin sekian banyak orang yang biasanya protes (kadang dalam hati, namun lebih sering sambil ngomel) kalau nonton film yang bersumber dari novel. Seingat saya, film bersumber novel yang pertama saya protesi adalah Harry Potter, hahahh. Iya, ketika sangat banyak bagian di dalam novel yang tidak saya temukan di film saya biasanya protes sewaktu keluar dari bioskop. Tapi setelah dipikir, memang tidak mungkin menuangkan keseluruhan novel (apalagi jika novelnya tebal) ke dalam film yang hanya berdurasi kurang lebih dua jam.

Ronggeng Dukuh Paruk, yang novelnya baru selesai saya baca di awal tahun 2010 kemudian difilmkan dengan judul Sang Penari. Di poster atau iklan film ini memang ada tertulis "terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk" dan benar saja banyak hal yang berbeda antara novel dan filmnya. Saya ingat banget pas nonton film ini di bioskop, cewek di samping saya tidah henti-hentinya protes karena bagian di film tidak sama dengan yang dia baca di novel. Sangat mengganggu tentu saja sampai saya pindah tempat duduk supaya ocehannya tidak terdengar (untung banyak yg kosong).

Dan setelah mendengar sendiri dari pak Ahmad Tohari tadi, saya jadi ber "Oh... Pantas..." sendiri dalam hati. Ternyata beliau memang memberikan kebebasan kepada "penggarap" film Sang Penari untuk menafsirkan sendiri novel Ronggeng Dukuh Paruk. Beliau beranggapan bahwa tidak mungkin film yang akan dibuat sama persis dengan novel yang telah ia buat. Dan hasilnya, jadilah film Sang Penari yang saya dan (mungkin) Anda sudah tonton. Dan ternyata pak Ahmad Tohari pun cukup puas dengan film itu, roh film-nya dapat kata beliau.

Dari diskusi panel tadi disebutkan bahwa novel dan film adalah dua karya yang berbeda dan harus kita nilai berbeda pula. Kalau menurut saya sih mungkin maksudnya kita harus menilai sebuah film dengan memosisikan diri sebagai orang belum membaca novelnya (mudah-mudahan ga salah). Iya, saya rasa itu juga ada benarnya. Seperti saat menonton "Hunger Games" kemarin, saya menilai film itu bagus-bagus saja. Namun bagi teman yang terlebih dahulu membaca novelnya merasa film itu tidak sesuai dengan novelnya walaupun juga tidak jelek-jelek amat menurut dia :D. Saya memang cenderung tertarik untuk menonton film yang sudah terlebih dahulu saya baca novelnya. Ingin membandingkan bagaimana visualisasi di otak saya saat membaca novel dengan visualisasi film dan kebanyakan biasanya beda banget :)).

Mungkin mulai sekarang jika saya akan menonton sebuah film yang diadaptasi dari sebuah novel yang pernah saya baca, saya akan coba memosisikan diri sebagai orang yang belum pernah membaca novel tersebut sebelumnya. Mungkin agak susah ya, tapi itu bisa jadi itu salah satu cara untuk menilai filmnya dengan adil dan menikmati film dengan cara yang berbeda. Cape juga kan terus-terus membandingkan (walaupun cuma dalam hati) antara novel dan film sepanjang film berlangsung? ;)

Selasa, 29 Mei 2012

Sertifikat

Sebenarnya sudah lama hal ini mengganggu pikiran saya (ternyata selain ga punya uang ada juga hal lain yg bisa mengganggu pikiran :)) ). Melihat tulisan di timeline FB tadi bikin kembali ingat masalah ini.

Inti obrolannya kurang lebih seperti ini: Silahkan ambil sertifikat workshop (atau seminar?) walaupun Anda tidak mengikutinya, yang penting sudah bayar. Hahahh. Ini bukan pertama kali saya menemui ini. Bahkan pernah yang juga seorang teman menawari untuk mengikuti seminar yang diadakan di sebuah daerah. Silahkan transfer saja biaya pendaftarannya dan walaupun tidak bisa hadir akan dikirimkan materi beserta sertifikatnya sekaligus. Sekadar info tambahan seminar/workshop yang saya bicarakan ini biasanya diadakan oleh mahasiswa, perguruan tinggi, atau kerjasama keduanya.

Mungkin banyak yang bertanya "Untuk apa mendaftar kalau memang diniatkan untuk tidak itu ikut?". Orang mah motivasinya beda-beda ya ... Ada yang niatnya memang cari ilmu ada yang hanya mengejar Sertifikat dan SKP saja. Saya sendiri sih kurang ngerti apa itu SKP, tapi konon sih SKP itu sakti mandraguna. Buat naik jabatan, dapat kerjaan, pokoknya buat tambah nilai pluslah. Saya sendiri biasanya motivasi ikut seminar adalah ikut-ikutan ramai-ramai sama teman, muahahahh. Saat menulis ini saya baru ingat ada 2 seminar yang saya ikuti yang belum saya ambil sertifikatnya sampai sekarang :D

Saya kembali melihat beberapa sertifikat yang saya miliki (mulai dari sertifikat seminar memilih mie instan yang benar sampai workshop mengepel lantai rumah dengan benar), dan tulisan yang tertera di situ seperti ini:

Sertifikat
diberikan kepada

Wawajie CuteBangedhGelak 

atas partisipasinya sebagai

Peserta

........................

Lihat? Di sertifikat itu jelas tertera kata partisipasi. Apakah mungkin saya selama ini salah mengartikan kata partisipasi? Apakah dengan hanya membayar biaya seminar dan workshop saja saya sudah bisa dikatakan ikut berpartisipasi? Kalau memang ssalah berarti apa yang telah saya tulis di atas harap diabaikan saja.

But wait, kalau memang partisipasi dari sebuah seminar/workshop/dan sejenisnya cukup dengan membayar biaya pendaftaran, apa bedanya dengan pejabat yang hanya membeli gelar? Pejabat itu kebohongan skala besar dan pemburu sertifikat skala kecil? Tetap sama-sama kebohongan kan?

Siapa yang harus disalahkan? Pencari atau penerbit sertifikat? Ah, pertanyaan ayam telur lagi. Saya bukan sok jujur atau sok whateverlah mau bilang apa. Saya cuma mencoba mengingatkan, jangan-jangan memang "pencari dan penerbit sertifikat" itu tidak merasa  ini bukan hal yang salah. Jangan-jangan cuma saya saja yang merasa kalau ini ga benar. *kemudian tampar2 pipi sendiri* *biar tirus* :)))

Senin, 09 April 2012

#BukanEkspedisiCincinApi: Gunung Bromo


Long weekend kemarin, dengan rencana yang medium alias setengah matang, saya dan Betoy berangkat dengan niat mulia untuk bersenang-senang. Gunung Bromo menjadi tujuan mulia kali ini.

Kali ini kami jalan bersama tiga orang kenalan baru. Janjian bertemu di terminal Probolinggo untuk nanti bareng ke Bromo. Iya, kali ini kami memilih jalur Probolinggo untuk mencapai Bromo. Sebenarnya ada beberapa alternatif menuju bromo tapi saya cuma tau 2 yaitu via Probolinggo atau Malang. Jadi, kami memilih lewat Probolinggo karena alasan tidak ada, muahahahh.

Saya lagi malas nulis catatan perjalanan. Biarlah catatan perjalanan (dan juga biaya) itu tetap di buku catatan saya sendiri :p

Karena memang sedang long weekend, saya memang tidak berharap kalau tempat wisata satu ini akan sepi, tenang, dan tentram. Yuk, baik wisatawan lokal maupun mancanegara memenuhi tempat wisata ini, rame beudhlah pokoknya.

Lihat sunrise di Pananjakan, Gunung Batok dan Kawah Bromo, Lautan Pasir, dan padang Savana menjadi tujuan kami. Cuaca hari itu memang tidak cukup mendukung. Mendung yang cukup tebal menyelimuti sehingga sunrise dan pemandangan Gunung Batok dan Bromo tidak seindah foto-foto yang biasa saya lihat. Tapi tetap bagus sih menurutku (lah... labil!). Wes, langsung foto-foto aja deh ya... (beneran ga niat nge-blog ni orang (--"))

Gunung Batok

Sunrise di Pananjakan

Pemandangan gunung Bromo dan Batok dari Pananjakan

Mencari nafkah di Pananjakan

Gunung Batok dan kuda #foreveralone

Kawah Bromo

Pinggiran kawah ramai beudh #featuringBetoy

Padang sabana #featuringWawa #protesbayar :))



Kamis, 29 Maret 2012

#Resep Spaghetti Tuna Pedas


Ini adalah salah satu resep spaghetti favorit saya. Pertama kali coba di sebuah restoran di Yogyakarta. Di buku menu sih namanya Chunky Flaky ;), tapi saya biasanya cuma bilang spaghetti tuna pedas. So, ini resepnya:

Bahan:
  1. Spaghetti (150 g)
  2. Tuna in oil/in water (1/2 kaleng)
  3. Bawang putih (4 siung), cincang kasar
  4. Lombok kecil (4 biji atau sesuai selera), iris halus
  5. Daun jeruk (5-6 lembar), iris halus
  6. Minyak zaitun
  7. Garam
  8. Kaldu bubuk
Cara Memasak:
  1. Rebus spaghetti sampai tingkat kematangan yg diinginkan. Kalau saya suka agak lembek supaya jadinya lebih banyak, huehehehh. Tiriskan dan beri sedikit minyak zaitun agar tidak lengket.
  2. Tumis bawang putih, lalu masukkan lombok kecil dan daun jeruk. Tumis sampai wangi.
  3. Masukkan tuna, garam, dan kaldu bubuk. Tambahkan air 2 sdm supaya tumisan tidak kering.
  4. Terakhir, masukkan spaghetti dan aduk sampai rata.
*Cukup untuk dimakan bersama pasangan. Kalau ga punya pasangan ya sama saudara atau teman atau siapa aja deh !

SELAMAT MENCOBA. Enak loh, ga bohong! :9

Senin, 19 Maret 2012

#firsttime Nonton Langsung Prosesi Pernikahan Adat Yogyakarta


Kemarin, tepatnya hari sabtu dan minggu (17 & 18 Maret), saya menonton secara langsung prosesi pernikahan adat Jawa, tepatnya Yogyakarta, adik sahabat saya. Bagi sebagaian orang, apalagi bagi mereka yang tinggal di Yogya pasti sudah biasa melihat prosesi seperti ini. Namun bagi saya, ini adalah pengalaman pertama jadi sangat exciting dan agak2 norak :))

Mulai dari pasang black-ktp (ditoyor orang Jawa se-Indonesia) sampai panggih pengantin. Semua prosesinya menarik perhatian saya, namun prosesi yang menurut saya paling menarik yaitu sade dawet ayu.

Sade Dawet Ayu. Saya juga baru googling untuk tahu istilah prosesi ini :D. Prosesi dimana orang tua calon mempelai wanita berjualan es dawet. Seru deh (bilangin saya emang norak karena baru pertama kali :p), apalagi untuk dapat memperoleh es dawet harus menukarkannya dengan uang-uang yang dibuat dari tanah liat. Kreweng atau pecahan genting ini sebelumnya dibagikan kepada tamu yang datang untuk kemudian ditukarkan dengan es dawet.

Orang Tua Calon Mempelai Berjualan Es Dawet


Kreweng untuk membeli es dawet

Selain itu, juga ada prosesi lempar ayam oleh Ayah mempelai wanita kepada para tamu yang hadir. Sayang sekali, saya ga dapet ayamnya. Padahal kan lumayan tuh bisa dibuat kari ayam :))

Setelah acara selesai, teman dan saudara calon mempelai kemudian pergi ke tempat siraman. "Pada ngapain?" tanyaku penasaran "Sini wa, cuci tangan sama kaki pake air siraman tadi biar cepet nikah juga" jawab salah satu. Oke deh... *eye-rolling* *lalu ke tempat siraman* *cuci tangan dan kaki* *kemudian bobo* :))

Lokasi Siraman

Itulah pengalaman pertama seorang anak Makassar yang pertama kali menonton langsung prosesi pernikahan adat jawa. Harap dimaklumkan kenorakannya.

Senin, 12 Maret 2012

Kesehatan Ibu, Masa Depan Bangsa


"We believe fervently that improving nutrition for pregnant women and children under two is one of the smartest investment we or anyone can make" (1)

Jika menurut Anda kesehatan adalah investasi, maka gizi ibu hamil dan anak usia di bawah dua tahun adalah investasi (kesehatan) yang paling pintar.

Teori Barker

David Barker, seorang dokter dan juga peneliti, telah melakukan berbagai penelitian tentang kondisi ibu dan bayi yang dihubungkan dengan kondisi kesehatan di masa mendatang. Penelitian Barker antara lain menunjukkan bahwa semakin rendah berat saat lahir dan pada masa bayi maka semakin tinggi risiko untuk menderita jantung koroner di kemudian hari (yang kemudian dikenal dengan hipotesis Barker). Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa berat lahir rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi, stroke, dan diabetes melitus tipe 2 (2).
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa komposisi tubuh wanita dan asupan makan saat merencanakan kehamilan dan selama kehamilan memiliki efek yang penting pada kesehatan keturunan selanjutnya. Risiko penyakit kronis kemudian akan meningkat jika anak memiliki berat lahir rendah sehingga anak menjadi kurus atau pendek. Lalu, setelah usia dua tahun penambahan berat badan yang cepat dapat menyebabkan kegemukan dan lebih lanjut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes tipe 2 (2).

Kesehatan Ibu, Masa Depan Bangsa

Dari beberapa penelitian oleh Barker yang telah saya kutip di atas, dapat kita lihat bahwa kondisi kesehatan kita di masa depan mulai ditentukan bahkan sebelum kita menjadi janin. Seorang wanita dan calon ibu mempunyai peranan penting akan masa depan kita. Jika kesehatan calon ibu tidak baik, apalagi jika kondisi kesehatan yang tidak baik berlanjut sampai masa kehamilan maka bayi yang dilahirkan pun akan dalam kondisi yang tidak baik. Berat lahir rendah, kegemukan, dan kecacatan adalah contoh dari kondisi bayi yang bisa lahir jika kondisi kesehatan ibu yang tidak baik semasa perencanaan kehamilan dan masa kehamilan.

Kondisi kesehatan sebelum dan semasa hamil yang buruk -> bayi yang dilahirkan tidak normal -> saat dewasa memiliki risiko menderita berbagai macam penyakit -> Jika wanita, kondisi kesehatan sebelum dan semasa hamil yang buruk -> bayi yang dilahirkan tidak normal -> ... dan seterusnya, bisa menjadi "lingkaran setan" yang sulit untuk diputus. Oleh karena itu, dengan memperhatikan kondisi kesehatan sebelum dan masa kehamilan, maka diharapkan "lingkaran setan" di atas tidak pernah kita mulai.


Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Di masa kemudahan mencari informasi seperti sekarang ini, setiap orang bisa dengan menemukan informasi apa saja yang mereka inginkan. Permasalahannya adalah: Apakah setiap orang peduli dengan itu?

Dengan sumber pengetahuan yang sangat dekat, rasanya tidak adil jika saya tidak berbagi apa yang pernah saya dapatkan apalagi jika ada kaitannya dengan gizi saat merencanakan ataupun masa kehamilan. Bagaimana seharusnya status gizi wanita yang merencanakan kehamilan, makanan apa saja yang baik dikonsumsi saat hamil, bagaimana seharusnya ibu hamil itu makan, dan lain-lain. Namun, selama ini saya tidak menambahkan bahwa hal itu dapat menentukan masa depan seorang anak, bukan hanya sampai pada kondisi lahir bayi yang normal dan sehat. Bahwa, bagaimana kondisi calon ibu bisa memengaruhi kondisi kesehatan anak mereka di masa mendatang. Oke, akan menjadi catatan pribadi untuk saya jika suatu waktu akan menyampaikan hal seputar gizi dan kehamilan lagi, saya tidak hanya akan berhenti di

"Supaya bayi Anda normal dan sehat"

melainkan

"Supaya bayi Anda normal dan sehat serta ikut menyelamatkan masa depan bangsa"

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? "Mari berbagi informasi" jawab saya.

*sumber inspirasi dan referensi



Senin, 05 Maret 2012

Pajak Tahunan Cimot

Tadi pagi, sebagai warga negara yang bijak maka dengan penuh semangat saya menuju ke kantor SAMSAT atau Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (ih wow, baru tau juga ini kepanjangannya dari wikipedia) Sleman. Tujuan adalah membayar pajak tahunan cimot. Saya sudah beberapa kali ke sini, jadi sudah agak familiar dengan suasana dan kondisinya.

Saat memarkir kendaraan pasti akan ditanyai oleh tukang parkir "Mau urus apa mb? Mau dibantu", kalau saya lugu level 18 pasti saya langsung berpikir "ih wow, orang-orang Jogja emang baik. Ngurus stnk aja mau bantuin *smile*". Untung tingkat keluguan saya untuk urusan beginian -69, jadi saya jawab saja "Terima kasih pak, nanti saya urus sendiri *smile*". Sebenarnya kalau ga mau repot, menggunakan jasa calo bisa mempercepat urusan. Cukup bayar seikhlasnya (tapi biasanya sih klo untuk pajak tahun motor bayar 15-20ribu), maksimal setengah jam (teman saya bilang bisa sampai 15 menit) urusan beres. Namun karena saya ingin menikmati suasana samsat lebih lama, makanya saya mau urus sendiri saja *smile*.

Alur membayar pajak tahunan kendaraan:
  • Kalau untuk pajak tahunan kendaraan siapkan: STNK, tanda pengenal, dan BPKB (dan fotocpyan semuanya). Nah, kalau untuk fotocopyan lebih enak kalau fotocopy di dalam lingkungan samsat karena mereka sudah tau bagian-bagian mana saja yang perlu difotocopy).
  • Setelah semua yang diperlukan sudah siap, masukkan ke loket yang bersangkutan. Ingat, tanda pengenal yang digunakan haruslah yang berdomisili di wilayah yang sama dengan Samsat-nya. Dengan pede-nya yang saya lampirkan adalah KTP Makassar, ada sih KTP sementara Sleman tapi ternyata sudah wafat bulan lalu. Ngok. Jangan panik klo ada masalah seperti ini tetap *smile*. Oleh pakpol yang ada di loket, saya disuruh ke gedung belakang ketemu pak Sammy, nama lengkap Samidi (bo'ong ding, ga tau nama lengakapnya :D). Karena saya sudah pernah ke sini, saya sudah tau ruangannya pak Sammy. Mblusuk-mblusuk dan mana tahu kalo mejanya beliau di situ (--"). Oleh pak Sammy, fotocopyan saya ditandai. Saat saya tanya bayar berapa, ternyata ga bayar. Saya pikir klo pake jalur aneh dan ga lazim begini biasanya bayar tapi ternyata gratis. Setelah itu, kembali ke loket yang tadi lalu Anda akan diberi nomor antrian untuk membayar di kasir.
  • Menunggu dipanggil
  • Masih menunggu
  • .....
  • Akhirnya dipanggil... Anda akan menerima rincian berapa yang harus dibayar. Seperti angkot, Bayarlah dengan Uang Pas untuk mempercepat dan ga nyusahin mb kasir *smile* . Setelah itu, Anda akan diberi kertas rincian pembayaran yang sudah bertanda lunas.
  • Menunggu lagi
  • Lagi-lagi menunggu
  • Nonton Dahsyat melalui tv di ruang tunggu.
  • Dipanggil. Horee... Serahkan bukti pembayaran untuk mengambil STNK dan Surat Ketetapan Pajak.
  • STNK dan Surat Ketetapan Pajak sudah di tangan. Selesai. Alhamdulillah.
Waktu yang saya habiskan sejak datang-selesai sekitar 55 menit. Mungkin kalau datang lebih pagi (saya tiba di sana sekitar pukul 9.20) waktu yang dihabiskan bisa lebih singkat karena antrian belum begitu banyak. Mungkin loh ya...

So, jangan lupa bayar pajak kendaraan Anda ya dan jangan telat biar ga kena denda *smile*

Senin, 20 Februari 2012

Keajaiban Itu Nyata


Setelah sekian lama, akhirnya terjadi keajaiban dalam hidupku sodara-sodara...
Sampai sekarang saya masih belum percaya ini bisa terjadi. Unbelievable. Amazing. Wow. Pokoknya kalian pasti juga sulit mempercayainya tapi percayalah ini nyata.

Kurang lebih seminggu lalu tv ku mati dengan damai setelah sekarat beberapa hari sebelumnya. Tv 14' yang telah menemani hari-hariku selama kurang lebih 5 tahun. Sekarat, ga bisa dikendalikan lagi pakai remote, kadang mati tiba-tiba lalu menyala kembali, kasihan sekali pokoknya. Beberapa hari setelah mati, saya berharap bahwa ini semua tidak nyata, ini hanya khayalan dan si tv bisa hidup kembali. Namun, tidak ada yang terjadi, dia tetap terbujur kaku dan tak mau menyala. Saya pasrah, berserah diri, dan tentu saja mengharap ganti yang lebih baik. Muhahah.

Setelah menghitung uang di tabungan (lalu kemudian berduka melihat jumlahnya) dan mencari-cari informasi tentang tv pengganti, saya akhirnya menyerah. Bisa sih sebenarnya, tapi dengan konsekuensi uang yang kusisihkan untuk liburan akan ternodai. Menyerah, kemudian mengadu. Mengadu kepada Ayah lalu mengajukan proposal pembelian tv baru. Dan Alhamdulillah, ditolak. Ngok. Ya sudahlah, mari menikmati hari-hari tanpa tv, life must go on.

Saya kembali pasrah dan berserah diri. Tiba-tiba, tv yang wafat itu berubah menjadi LCD TV 24' yang kuinginkan. Woww... Lalu kemudian terbangun dari mimpi.

No... Malam ini, karena iseng dan masih berharap kembali kupencet tombol power tv yang telah lama terbujur kaku. Dan... tetap mati. Ya sudahlah, saya kemudian melanjutkan kegiatan sehari-hari di kamar, belajar, belajar, dan belajar (kemudian hidung memanjang karena berbohong). Sedang asyik-asyiknya belajar (hidung tambah panjang), err, oke, sedang asyik-asyiknya membaca 9gag.com (hidung perlahan-lahan memendek) lalu, keajaiban itu terjadi sodara-sodara... TVku hidup kembaliiiiiiii. Woowww... Amazinggg...

Lalu, kuganti channelnya menggunakan remote dan ternyata... tetap ga bisa. Ngok. Gapapa, yang penting dia bisa hidup kembali saya sudah senang sekali. Saya bisa kembali menikmati acara-acara berita yang mencerdaskan (hidung memanjang lagi), oke, oke, saya bisa kembali menikmati drama korea dan OVJ. Puas... puas... Sobek-sobek!



Alhamdulillah ya...


Sabtu, 18 Februari 2012

Tentang Ulasan Tempat Makan

Haloo...

Pukul 12 pm waktu kamar waktu saya mulai menulis ini. Sudah mencuci, nyapu, ngepel (iya, kata dokter sering-seringlah mengepel gaya Inem pelayan seksi jika sudah dekat HPM~ hari perkiraan melahirkan), makan, minum, bersih2 rumah Rangga. Belum mandi.

Ok, ini tentang ulasan tempat makan. Lebih tepatnya, ulasan tentang ulasan tempat makan. Bingung ga? Ga~~~

Seberapa sering Anda mencari tahu melalui internet tentang sebuah tempat makan sebelum mengunjunginya? Kalau saya tidak terlalu sering. Ya secara tempat makan saya sehari-hari adalah warung prasmanan dekat kosan -yang tak perlu baca ulasan dulu karena tempatnya ramai, harganya murah jadi ga rugi-rugi amat kalau ga enak tapi ternyata Alhamdulillah enak-, kantin kampus, atau masak sendiri. Pun kalau makan di tempat-tempat agak mahal -mahal bagi penulis adalah makanan dengan harga >10.000 rupiah. Camkan itu!- biasanya ke tempat makan yang sudah biasa saya kunjungi atau kalau mencoba tempat makan biasanya dari rekomendasi temann.

Mencari review tempat makan saat ini semudah mengetiknya di mesin pencari lalu pencet enter. Mudah sekali bukan? Bukan~~~ ya tapi itu, di balik kesulitan pasti ada kemudahan dan di balik kemudahan pasti ada kesulitan. Maksudnya, dengan kemudahan mencari ulasan tersebut Anda akan menemukan (sedikit) kesulitan di baliknya.

  • Kesulitan #1 : Selera setiap orang berbeda-beda. Nah lo, ada yang bilang enak ada yang bilang ga enak. Ada yang bilang pelayanan memuaskan tapi banyak juga yang bilang waiternya tidak ramah. So, bagaimana mengatasi kesulitan ini? Aku pun bingung. Pada beberapa ulasan tempat makan yang saya baca, dituliskan: rumah makan x ini pelayanannya sangat tidak ramah tapi waktu saya pernah ke sana ternyata ramah tuh. Mungkin solusinya adalah dengan berkunjung langsung *haissshhh. Begini, sebenarnya sekali kunjungan itu menurutku belum bisa menggambarkan secara umum. Mungkin, ketika Anda berkunjung, Anda sedang kurang beruntung. Pas masak, gas di dapur restoran habis dan ternyata gas sedang habis di mana-mana. Kayu bakar, minyak tanah, arang, semua habis. Maka jadinya pesanan Anda sangat lama karena dimasak dengan tenaga matahari yang siang itu sedang mendung. Yah makanya, setiap tempat makan selalu dituntut untuk sempurna setiap hari. Sekali saja Anda mengecewakan dan customer Anda comel, itu akan sama saja bahwa Anda mengecewakan sejak awal.

  • Kesulitan #2 : Murah dan mahal itu relatif. Aih, ini sensitif banget ini bagi saya yang mengatakan bahwa mahal adalah >10.000 rupiah. Padahal kalau ada steak wagyu yang harganya 10.500 ( You wish Wa! 10ribu per sekali kunyah mungkin!) kan tergolong murah. Atau ada nasi+tahu 1 biji harganya 7500 ya mahal. Nah, di beberapa ulasan yang tidak mencantumkan harga dan hanya mengatakan bahwa harganya cukup murah dan terjangkau, sebaiknya dicari tahu dulu berapa kisaran harga di situ. Akan lebih baik kalau tau kisaran harganya. Kan ga enak kalau sudah bawa uang 10 juta, ternyata harga makanannya cuma 5000 rupiah? Mau diapakan 9.995.000 rupiah sisanya? Kalau dikembalikan ke mama papah nanti mereka marah "kok duit jajannya ga dihabisin? Hah?"
Kalau menurut saya, jangan terlalu berpedoman pada ulasan-ulasan di internet. Selera kita berbeda-beda walaupun kita satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Merdeka!

Waktu menunjukkan pukul 9.35pm waktu tulisan ini akan diterbitkan. Sudah mandi, makan 2 kali, main sama Rangga, sit up 10 x, angkat jemuran, nonton 2 film, gulung-gulung di lantai, dan beribadah tentu saja. Luar biasa. Astaghfirullah, mentang-mentang artikel kali ini agak menyenggol soal makanan makanya sengaja digaring-garingkan. Luar biasa garingnya.