Senin, 15 Oktober 2012

Cerita Kosan

Saya selalu memimpikan punya kamar kosan yang ada balkon pribadi dengan pemandangan yang indah. Iya, itu memang hanya sekadar mimpi. Pertama, punya kamar kosan dengan balkon pribadi pastilah tidak murah. Dua, hmm... Itu aja sih satu alasannya, mwahahahh.

Semenjak jadi anak kos tahun 2006 (ebusetttt... lama siah!), saya baru mencoba 2 kosan. Yg pertama saya tempati selama 4 tahun dan yang kedua yang mulai saya tempati di tahun ke 5 sampai sekarang. Kosan pertama saya cukup besar (bangunannya, kamar saya mah kecil) dengan 30 kamar. Jadi, kosan saya yang pertama cukup ramai. Kadang malah keramaian sampai pernah ditegur tetangga. Huehehehh.

Tahun 2010, saya memutuskan untuk pindah kosan. Alasannya? Mencari yang lebih murah. Hahahh. Akhirnya, saya dapat kosan yang memang lebih jauh dari kampus dibanding kosan saya yang pertama. Toh, ada kendaraan ini jadi tidak masalah juga saya rasa. Walaupun lebih murah, tapi kamar kos saya yg sekarang lebih luar dengan fasilitas kamar mandi pribadi. Memang sih, bangunannya tidak sebagus kosan yang pertama tapi saya rasa cukup lumayan dengan harga yg saya bayar. 

Selain kamar yang lebih luas, salah satu alasan saya menyukai kosan saya yang sekarang adalah tempat jemuran. Outdoor, luas, dan pemandangan yang lumayan. Entah kenapa, saya suka sekali dengan tempat jemuran di kosan yang sekarang. Terletak di lantai tiga dan merupakan atap bangunan kosan. Tidak jarang saya ke tempat jemuran hanya untuk membaca kalau sumpek dengan pemandangan di kamar kosan tapi sedang malas keluar. Selain banyak angin, jika sedang cerah kita juga melihat pemandangan gunung Merapi dan merbabu dengan cukup jelas di sebelah utara. Bahkan bukit-bukit yang berada di sekitar Jogja juga bisa terlihat. Suka dengan pemandangan senja? Pemandangan dari tempat jemuran ini juga lumayan cantik. Ya walaupun sedikit terhalang dengan kabel listrik, tapi saya cukup senang menikmati senja di sini. Menghadap ke timur di awal pagi, kita juga bisa melihat matahari yang mulai muncul.

                                           
Pemandangan (ciye, pemandangan) dari tempat jemuran kosan


               
Sama, masih dari tempat jemuran kosan
                                                              
Intinya, saya cukup betah dengan kosan saya sekarang dengan banyak kekurangannya mungkin bisa dibilang karena tempat jemuran itu. Hahahh.

Btw, bisa nebak ga kira-kira dari dua foto di atas, yang mana pemandangan sunrise yang mana sunset?

Rabu, 10 Oktober 2012

Merapi, 3 Tahun Kemudian

Akhir pekan kemarin, saya dan teman-teman penikmat alam lain main ke Merapi setelah lebih dari setahun tidak naik gunung. Pendakian kemarin ramai sekali (ya karena memang ikut pendakian bersama yang diadakan fakultas tempat saya membuang duit), diikuti sekitar 28 orang dan untungnya bukan saya yang paling senior, mwahahahh.

Ini kali kedua saya naik gunung Merapi, pertama kali sekitar 3 tahun lalu. Saya memang penasaran sekali ingin naik gunung ini lagi. Penasaran ingin lihat bagaimana kondisinya setelah terjadi erupsi pada akhir tahun 2010 kemarin. Jumat malam, 5 Oktober 2012, saya tiba di basecamp. Ruameeee sekali, ternyata banyak yang akan mendaki Merapi malam itu. Sekitar pukul 22.00, saya bersama tiga teman yang lain memutuskan untuk jalan duluan, bukan bermaksud "ninggalin" teman yang lain tapi sadar diri kalau jalan saya lambat, ehehehh.

Jalan, jalan, istirahat, jalan, benerin backpack, jalan lagi, istirahat lagi, jalan, jalan, dan seterusnya. Setelah kurang lebih berjalan 3 jam dan sempat galau, akhirnya kami memutuskan untuk nge-dome di sekitar pos 2. Setelah mendirikan dome, bikin minuman hangat (eh, bikin ga sih? lupa), akhirnya berserah diri pada kelelahan. Dan... dome untuk dua orang kami jejali untuk berempat, huahahahhh.

                                                Dome tetangga selalu lebih hijau merah

Seperti biasa, kalau lagi naik gunung gini pasti saya yang paling terakhir bangun *bangga*. Lihat sunrise? Oh tentu tidak, secara mendung dan posisi kami memang ga pas buat liat sunrise. Tapi pemandangannya mah tetap bagus. Pemandangan, mungkin ini yang bikin saya ga kapok-kapok naik gunung. Kalau malam, bisa liat pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian, kalau pagi bisa liat awan-awan menggantung dan sejajar dengan kita. Ahhh... indahnya.

Setelah sarapan dan beres-beres kami pun melanjutkan perjalanan. Karena siang itu kondisinya cukup berawan, gunung tetangga yang biasanya terlihat cukup jelas, cuma mengintip malu-malu di balik awan. Gunung Sumbing dan Sindoro juga hanya mengintip samar-samar. 

                                                              Peeking Merbabu 

Dan... sampailah kami di pasar Bubrah, pos terakhir sebelum menuju puncak Merapi. Setelah erupsi tahun 2010, jalur ke puncak Merapi berubah. Jadi lebih sadis kalau menurutku. Seingatku, dulu tidak ada pakai acara merangkak dan jatuh bangun, ughh :(. Perjalanan pun jadi lebih lambat, ya gimana ga lambat kalau setiap naik 2 langkah kemudian terperosok 1 langkah. Setelah berjalan merangkak satu jam lebih, akhirnya sampai juga di puncak. Dan benar saja, puncaknya berubah banget, nget. Tidak ada lagi acara lari-lari dan nari-nari di puncak. Boro-boro, salah langkah dikit bisa bikin terperosok dalam kawah yang menganga sangat lebar. Kondisinya kurang lebih seperti di bibir kawah gunung Bromo tapi lebih sempit dan lebih menyeramkan.

Pasar Bubrah

Kawah Merapi

Sewaktu naik ke puncak Merapi sembari gaya laba-laba nemplok dinding, saya mikir "... Ini ntar turunnya gimana? :((" Hahahhh. Ternyata turunnya tidak seseram yang kubayangkan, malah seru! Errr... seperti meluncur dari salju (kayak pernah aja sih Wa!) tapi minus alat plus batu+pasir+debu nya panas. Seruuu!

Ya gitulah pokoknya. Cerita turunnya biasa saja sih, ga ada yang seru kecuali saya beberapa kali jatuh, ha!
Buat teman-teman yang mau naik Merapi, jangan lupa pakai masker. Ya kecuali memang sengaja mau bernapas dalam debu. Bawa persediaan air yang cukup karena sama sekali tidak ada sumber air selama perjalanan. Jangankan perjalan, di bawah (sebelum naik) saja susah sekali air bersih. Kata ibu yang jaga warung di New Selo, semenjak erupsi memang air bersih susah :(. Ah, semoga keadaan di sana segera membaik.