Jumat, 01 Juli 2011

Leave Nothing But Footprints


Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa teman mengunjungi salah satu taman nasional di Indonesia tepatnya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Niat saya dan teman-teman memang untuk mendaki. Dibandingkan dengan beberapa gunung yang saya kunjungi, persyaratan untuk mendaki gunung ini cukup rumit. Harus booking dan membawa surat-surat pengantar, untuk lebih jelasnya bisa lihat di sini. Padahal biasanya tinggal datang aja trus naik.

Di beberapa gunung yang pernah saya kunjungi sebelumnya (ya dikit sih dan cuma di sekitar Jawa Tengah), melihat sampah baik di sepanjang jalur pendakian atau di tempat-tempat mendirikan kemah adalah hal yang lumrah. Selain sampah, coretan-coretan menggunakan cat di sana-sini juga sangat mudah ditemui. Lumrah tapi tidak benar tentu saja.

Di gunung Gede ini, saya mengira hal tersebut tidak saya temukan. Atau minimal, saya tidak akan melihat sampah sebanyak yang saya lihat biasanya. Ini karena persyaratan memasuki wilayah TNGGP yang jauh lebih rumit. Namun, apa yang saya lihat di sana justru sampah yang jauh lebih banyak. Ternyata saya salah besar, persyaratan yang lebih rumit ternyata tidak menjamin bahwa yang memasuki wilayah TNGGP adalah "orang-orang yang bertanggung jawab". Padahal, sebelum memasuki kawasan TNGGP, kita harus membuat surat pernyataan yang salah satu poinnya telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan tentang konservasi sumber daya alam. Selain itu, juga ada form "daftar barang bawaan yang menghasilkan sampah" yang harus diisi. Kata seorang bapak yang saya temui di jalan "Orang sekarang itu sukanya vandalisme, udah bagus-bagus kok dirusak". Bapak itu pertama kali mendaki gunung Gede tahun 1973 dan setelah berpuluh-puluh tahun akhirnya kembali mendaki gunung ini. Oh, iya teman saya juga sempat mematikan sisa perapian yang belum padam. Bagaimana jika seandainya api tersebut tidak padam kemudian membakar kawasan tersebut? Sudah jelas ada peraturan dilarang membuat api. Peraturan memang dibuat untuk dilanggar *sigh.

Tentu tidak semua pendaki melakukan hal-hal yang tidak bertanggung jawab seperti yang saya tuliskan. Saya paling senang jika ada pendaki yang turun dan dan melihat di carrier mereka ada kantong sampah yang menggantung :). Bagaimana dengan saya dan teman-teman? Ya dibawa pulanglah sampahnya. Kalau tidak, ngapain saya bikin artikel ini.

Dalam perjalan menuruni gunung saya berpikir, apa mungkin lebih baik jika kawasan-kawasan alam seperti ini sekalian tidak usah dibuka untuk umum. Toh, saya rasa uang kontribusi yang dibayarkan tidak sebanding dengan sampah-sampah yang merusak kawasan tersebut. Peraturan-peraturan yang dibuat juga cuma sekadar formalitas belaka yang pelaksanaanya nol besar. Sama seperti banyak peraturan lain di negeri ini.

artikel ini juga diterbitkan di sini