Rabu, 19 September 2018

Menghargai Titel


Beberapa minggu yang lalu teman kerja dari bagian lain minta nama lengkap, biasalah buat ditaruh di undangan nikahan. Ku tulislah nama lengkap pemberian Ayah Ibuku, “titelnya mana?” tanya temanku. “Iya, masa sudah capek-capek sekolah titel-nya ga dicantumkan?” imbuh temanku yang lain.

Gelar akademik atau titel, yang ternyata dari bahasa Belanda ku baru tau, adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademik bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi (sumber: wikipedia).

Lanjut tentang undangan nikahan tadi, banyak yang berpendapat bahwa penulisan gelar itu sangat perlu untuk menghargai yang kita undang. Menghargai titel mereka yang sudah susah-susah kuliah untuk mendapatkan suatu titel.  Bahkan di undangan-undangan ada tulisan “Mohon maaf jika ada kesalahan pada penulisan nama dan gelar”.

Pertanyaanku, benarkah dengan mencantumkan titel pada nama di setiap kesempatan adalah suatu bentuk penghargaan terhadap titel tersebut? Tentu ini subjektif sekali ya. Saya tidak ada masalah dengan orang-orang yang berpendapat kalau menulis titel di undangan pernikahan itu sangat penting. Namun bagi saya pribadi, saya merasa hal itu tidak perlu. Mencantumkan titel pada nama menurut saya sih hanya diperlukan saat kita bersinggungan dengan dunia akademis atau dunia kerja. Malah kayaknya orang-orang yang kerja di bidang kreatif sudah jarang sekali ya mencantumkan titel mereka.

Tentang menghargai titel, menurut saya ini adalah beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk menghargai “susah-susah kuliah” kita, selain sekadar mencantumkan titel di undangan.

1. Bekerja dengan baik dan benar.
Apalagi kalau kita memang kerjanya sesuai dengan jurusan masing-masing. Bekerja dengan baik dan benar ini adalah cara menghargai titel kita dengan sebenar-benarnya. Secara tidak langsung juga menghargai almamater kita. Kan kasian ya kalau kerja kita ga bagus trus kampus kita jadi dibawa-bawa sama atasan atau rekan kerja atas kesalahan kita.

2. Rajin meng-update ilmu pengetahuan. 
Khususnya yang berkaitan dengan gelar akademis kita. Sarjana yang memilih menjadi Ibu rumah tangga sekalipun menurut saya juga harus update deh. Ga usah yang ribet-ribet sampai harus langganan jurnal gizi nasional. Tau macam-macam diet yang lagi tren di masyarakat, super-food yang sedang tren, atau artis siapa lagi diet apa, hahahahh. Ini sesuai bidang masing-masing saja sih. Bagi yang bekerja sesuai dengan jurusan masing-masing saat kuliah, hal ini juga sangat berkaitan dengan poin pertama. Rajin baca, sesekali ikut seminar atau pelatihan, atau sekedar berbagi ilmu di forum-forum on line.

3. Tidak menyebarkan hoax.
Ini penting banget nih. Apalagi kalau informasi hoax yang kita dapat itu masih berhubungan dengan bidang keilmuan kita. Saya baru-baru ini nyebarin hoax tentang formasi CPNS di POLRI, huhuhuu, aku merasa gagal sebagai duta anti hoax RT RW. Untungnya cepat tau dan segera meralat informasi ke teman yang sudah terpapar, hahaha (((terpapar))).
Kalian ada ga sih WA grup yang isinya ya orang-orang bertitel tapi ga jarang nyebarin hoax. Huft. Mau diluruskan kok ya agak ga enak ya apalagi yang share itu senior kita. Berhenti di kamu aja ya guys hoax-nya, jangan diteruskan.

Btw, tulisan ini saya buat bukan untuk menyinggung orang-orang yang sangat mementingkan titel di setiap kesempatan. Serius deh, itu sangat tidak apa-apa, terserah, dan bebas. Tulisan ini tuh sengaja saya tulis juga untuk mengingatkan diri sendiri. Supaya kerja ga asal-asalan, rajin-rajin baca artikel ilmiah terbaru, dan rajin mengecek setiap informasi yang diterima supaya tidak menjadi bagian dari penyebar hoax. Ya walaupun yang tidak kuliah atau masih di bangku sekolah juga harus ambil bagian #hantamhoax.

Untuk penutup, jadi ingat celetukan seorang teman waktu itu kalau liat undangan nikah dengan nama mempelai lengkap dengan titelnya “Itu undangan nikahan pakai titel, emang mau presentasi paper pas resepsi?”. Hahahah. Dasar temanku jomblo nyinyir, sirik aja :p