Kamis, 17 Juni 2010

Counter Down

Lampu merah, traffic light, bangjo, atau apalah sebutannya.

Karena sekarang jaman tambah canggih, lampu merah pun tak mau kalah. Sudah lama (banget) sih sebenarnya, di beberapa lampu merah (khususnya Jogja), biasa kita temukan alat penghitung mundur (counter down). Gunanya apa? Ya buat ngitung mundur lah. Hitung mundur waktu dari lampu berwarna hijau sampai berubah merah ata sebaliknya, warna merah berubah hijau.

Menurut saya, alat penghitung mundur ini ada kelebihan dan ada juga kekurangannya (Yeah... no stuff perfect, right?)

Kelebihannya:
1. Hiburan, hehehh. Bagi saya, kadang alat penghitung mundur menjadi hal yang menyenangkan untuk diperhatikan. Suka aja lihat angka terus berubah, mendekati nol dan voila... Tancap gas lagi.
2. Hemat bahan bakar kendaraan sekalian mengurangi asap knalpot. Dengan adanya alat penghitung mundur ini, kita jadi tau berapa lama kita akan "nongkrong" di sini. So, kita bisa matikan mesin sebentar sambil nunggu lampunya hijau lagi. Di lampu merah perempatan jalan Tentara Pelajar dan jalan Diponegoro, di situ bahkan ada running text di sela-sela alat penghitung mundurnya. Kita diminta untuk sejenak mematikan mesin sampai detik ke 20 menuju lampu hijau. Counter down di situ juga lebih bagus dibandingkan dengan lampu merah yang lain. Ya..ya.. lampu merah di situ memang lamanya ga tanggung-tanggung, kalau ga salah sampai angka 200 detik. Beruntunglah Anda kalau ga kena lampu merah di situ.

Kekurangannya:
1. Kemungkinan untuk meningkatkan kecepatan di lampu merah menjadi semakin tinggi. Bayangin aja, kalau dari jauh di alat penghitung mundur tertulis 9, 8, 7, dst... Apa ga tambah kencang tuh gas lo? Orang jaman sekarang memang superr sibuk *hey, ini sarkasme loh!*. Jujur, saya juga kadang2 agak menaikkan kecepatan kalau saya sedang terburu-buru. Tapi, saya lebih sering tidak terburu-buru, kalau kata Hj. Rhoma "Santai....."
2. Orang lain lebih bersemangat "jalan" padahal belum waktunya. Oh yeah, ini sering banget saya liat. Saat angka di alat penghitung mundur baru 3, ada orang yang sudah nyelonong aja. Ihh... gemes! Pengen ta' pites rasanya. Apa mereka buta angka+ buta warna kali ya? oh Tuhan, sembuhkan mereka. Tapi, soal jalan sebelum waktunya ini, juga bisa terjadi di lampu merah yang tidak punya alat penghitung mundur. Biasanya, cara mereka adalah melihat kendaraan dari arah lain, apakah sudah giliran lampu merah atau belum.
Misalnya nih, lampu merah bergiliran dari arah selatan, kemudian giliran timur, utara, barat, selatan, timur, begitu seterusnya. Nah, kalau pengendara yang terlalu "bersemangat" ini, berasal dari arah selatan, maka dia akan melihat kendaraan dari arat barat. Kalau dari arah barat sudah berhenti, walaupun lampu nya belum hijau, maka dengan gagahnya dia akan melaju tanpa dosa.

Jadi, sebagai pengguna jalan yang baik kita memang harus memanfaatkan alat penghitung mundur itu dengan benar. Jangan malah disalahgunakan. Yah, walaupun kadang alat penghitung mundur itu membuat waktu di lampu merah jadi lebih "berasa", but it's ok! Enjoy lampu merah, enjoy jalan raya.... Jangan sampai kita mengambil hak-hak orang lain di jalan raya.

(Kamar kos, 17 Juni 2010, 23.23)

Sabtu, 12 Juni 2010

Boikot Setengah-setengah toh...

Boikot? Nih, saya kutip dari e-book kamus Indonesia : bersama-sama menolak untuk bergaul (berurusan dagang, berbicara, ikut serta, dsb).

Tadi secara ga sengaja saya membaca sebuah artikel tentang boikot yang di-link seseorang sehingga saya terlibat suatu obrolan. Hmm, bukan obrolan sih sebenarnya. Hal ini dimulai ketika saya berkomentar seperti ini:


Me: Saya kutip satu kalimat yang lucu (dari artikel itu) : Boikot ini dilakukan jika memang kaum muslimin tidak merasa kesulitan mencari pengganti dari produk yang diboikot. That soooo funny!


Kenapa lucu menurut saya? Yaiyalah lucu, boikot kok setengah-setengah. Kalau mau boikot mbok ya yang niat. Kalau mau boikot produk zionis (sumpah demi pisang, gw ga tau artinya zionis tapi tau siapa yg mereka maksud *eh) ya, semua produk dong. Dari kutipan lucu kalau mau diibaratkan: Kalau gw butuh lo kita temenan, kalo lagi ada yang lain yang lebih oke kita musuhan. Hiahh, gw mah ogah!

Namanya aja boikot produk zionis, ya berarti bersama-sama menolak untuk bergaul/berurusan dengan produk zionis. Kalau setengah-setengah mah namanya: Boikot produk zionis yang tidak saya butuhkan serta bisa saya hindari dan ada penggantinya yang lebih bagus dan tidak lebih mahal. Sekian!


(Kamar kos,12 juni 2010 pkl. 00.50)