Jumat, 21 Juli 2017

Log Out

Sudah 3 hari sejak terakhir saya membuka Instagram, sekitar 8 bulan mengabaikan akun-akun di twitter, dan sekitar 4 atau 5 tahun (lupa) men-deactive akun facebook.

Waktu akun fb saya deactive, saya memang sepenuhnya beralih ke twitter. Waktu itu dunia twitter memang sangat aktif dan seru sekali. Sampai saya merasa dunia twitter sudah sangat berbeda dengan waktu pertama kali punya akun di twitter. Timeline isinya hanya melulu adu argumen, tak lucu-lucu lagi lah pokoknya. Akhir tahun lalu akhirnya log out dan sampai sekarang belum log in lagi.

Nah, alasan saya kali ini untuk mencoba survive (lebayyy) tanpa instagram adalah instagram itu sangat menyita waktu dan menyedot kuota (hahahahh). Tujuan saya biasanya membuka instagram  bukan lagi seperti tujuan awal yaitu untuk melihat foto-foto Bu Ani Yudhoyono (yes, Bu Ani adalah alasan saya dulu membuat akun instagram :D). Instagram sekarang terlalu banyak drama (dan agak susah ya untuk tak ikut kepo :p), hoax, dan jokes receh (tapi suka juga sih, apalagi drama-ojol, hahahahh). Saya akan tetap sesekali mengunggah foto di instagram tapi habis itu langsung log-out lagi mungkin yah, takut khilaf.

Hari ke-3 tanpa sosial media sama sekali dan saya merasa baik-baik saja. Nyaman malah, tidak terdistraksi, lebih fokus, dan tentu saja hemat kuota kakak...

Tanpa sosial media juga membuat blog saya yg hampir 3 tahun terabaikan jadi up-date kembali. Berfaedah bukan? Eh, blog ini tergolong media sosial bukan sih?

Selasa, 18 November 2014

Naik Motor Ke Minimarket

Pagi itu saya pergi ke minimarket dekat rumah. Jaraknya lima menit berjalan kaki, mungkin sekitar 150 m. Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya berpapasan dengan tetangga saya. Rumahnya persis di sebelah rumah saya. Ia mengendarai motor dengan kecepatan rendah sembari melipir di pinggir jalan. "Mau ke mana Kak?" sapaku, "Ke Indomaret" jawabnya sembari menunjuk tujuannya, menyebutkan nama minimarket yang baru saja saya datangi. "Jalan kaki dong Kak...", kataku sambil cengengesan. Iya, saya mencoba menyampaikan kalimat itu dengan nada bercanda tapi saya sangat serius mengatakannya. 

Pemandangan seperti yang saya alami barusan mungkin bukan hal yang langka. Naik motor untuk menempuh jarak 100-200 meter merupakan hal yang sangat lazim dilakukan. Motor sudah seperti pengganti kaki. Sacha Stevenson pun sudah pernah memarodikannya di "How To Act Like Indonesian" entah episode berapa. Ya, saking melekatnya kebiasaannya itu dengan sebagian orang Indonesia. Di parodi itu Sacha ceritanya naik motor ke penjual bakso yang ternya cuma berjarak 10 meter dari tempatnya semula berdiri, hahahahh. 

Apakah hal ini hanya terjadi di daerah kota? Bagaimana dengan desa? Apakah desa masih seperti gambaran FTV-FTV yang masyarakatnya masih jalan kaki atau bersepeda kemana-mana? Beberapa bulan lalu saya pergi ke kampung ortu. Sekitar 7 jam ke arah utara dari kota Makassar jika ditempuh menggunakan bis. Pemandangan manusia mengendarai sepeda adalah hal yang sudah langka di sana. Semua orang menggunakan motor sebagai sarana transportasi sehari-hari. Belanja ke pasar, antar anak ke sekolah, pergi ke sawah dan kebun, bahkan dengan jarak yang sangat dekat pun semua dilakukan dengan mengendarai motor. Bahkan saudara saya ke warung yang hanya terpisah empat rumah pun naik motor. Hahahahh *ketawa miris*. "Orang di kampung sudah tidak ada lagi yang mau jalan kaki, malu!" kata tanteku, entah pernyataan itu serius atau bercanda. 

Hari ini harga bahan bakar untuk kendaaraan bermotor kembali dinaikkan. Masing-masing premium dan solar naik Rp2000 dari harga sebelumnya. Namun, saya tidak yakin orang-orang yang selalu naik motor dalam jarak dekat akan beralih ke jalan kaki. Sudah banyak kampanye yg dilakukan untuk mengurangi kemacetan dan emisi karbon. Ada Bike to work, beralih dari kendaraan pribadi ke umum, sampai nebeng-menebeng kendaraan. Tidak, saya tidak akan mengajak anda sekalian untuk ber-bike to work atau beralih ke kendaraan umum. Toh, kendaraan umum di daerah Sulawesi Selatan juga belum bisa diandalkan (apalagi di daerah pedesaan, hampir tidak bisa diandalkan). Saya cuma mengajak untuk berjalan kaki/bersepeda ke minimarket/pasar/konter pulsa atau apa saja yang jaraknya dekat dengan rumah. Tujuannya: mengurangi kemacetan di perempatan/pertigaan kecil dekat rumah masing-masing, irit bahan bakar, olahraga, bisa sapa-menyapa dengan tetangga yang kebetulan sedang di teras/halaman. Toh, waktu yang dihabiskan kalau kita berjalan kaki/bersepeda dibandingkan naik motor paling cuma beda beberapa menit. Kita bukan orang Jepang kan yang janjian sampai ditentukan menitnya, huehehehh. Saya tidak tahu cara menghitungnya, tetapi sepertinya akan cukup banyak bahan bakar yang bisa dihemat jika semua orang di negara ini mau berjalan kaki/bersepeda ke minimarket dekat rumah :D

Minggu, 09 Maret 2014

Daftar Lagu Suka Suka: Album Kedua Tulus

Covernya mirip-mirip sama album pertama, hanya ada tulisan Tulus + foto Tulus tapi kali ini tampak kanan plus dominasi biru tua. Album ini saya beli beberapa minggu lalu di Disc Tarra. Melenceng sedikit, Disc Tarra yang saya datangi di salah satu mall di Makassar luasnya mungkin tinggal 1/3 dari terakhir yang saya ingat. Tergerus zaman dan pembajakan. Saya pun sudah lama sekali tidak membeli CD, terakhir entah berapa tahun yg lalu waktu membeli album pertama Bruno Mars. Lanjut.

Album yang diberi judul gajah, seperti salah satu judul lagu di Album ini, memiliki 9 lagu di dalamnya. Masih di dominasi lagu-lagu tentang cinta tapi seperti biasa, lagu cinta Tulus biasanya agak beda. Entahlah, Tulus memang jago merangkai kata-kata untuk dijadikan lirik lagu. Favorit saya sendiri adalah track nomor 9. Hahahahh, kalau nanti jatuh cinta kayaknya saya mau seperti lirik lagu itu (curhatlah setiap ada kesempatan!).
Saya sendiri kurang mengerti maksud dari lagu yang dijadikan judul album Tulus kali ini. Tentang persahabatan, mungkin, tapi tetap saya tidak mengerti kenapa menggunakan metafor gajah. Ada juga penggunaan metafor sepasang sepatu untuk sepasang muda-mudi dan matahari untuk manusia-manusia yang berusaha mengejar passion (?). 

Secara keseluruhan, seperti album pertamanya, saya bisa menikmati hampir semua lagu-lagu di album ini. Jenis lagu yang beragam, lirik yang tidak biasa, suara yang menyenangkan.
Satu kata untuk album Gajah ini: berani!