Sabtu, 29 Juli 2017

Makan dan Ponakan

Sudah 2 malam ini berhasil mendudukkan ponakanku di meja makan untuk makan malam.

Yes, kayaknya saya terobsesi bikin anak kecil duduk rapi makan di meja makan, baik itu disuap ataupun makan sendiri kalau sudah bisa. Dulu, dosenku pernah cerita kalau dia tega bikin anaknya lapar kalau anaknya menolak makan dengan tertib dan tepat waktu di meja makan. Waktu itu mikirnya, iya ah, ntar kalau punya anak saya bakalan kayak gitu.

Obsesi bertambah besar setelah nonton reality show korea "Appa Odiga" dan "The return of Superman". Kalau Appa Odiga, anaknya kan sudah lumayan besar untuk bisa makan sendiri di meja makan. Sedangkan di TROS, anaknya masih usia balita dan mereka bisa tertib makan di high chair. Ku kagum sekali.

Semua pecinta tayangan korea pasti tidak ada yang tidak mengenal Song Triplet Daehan-Minguk-Manse. Usia mereka 27 bulan ketika pertama kali bergabung dengan reality show TROS. Saya pun jadi penggemar mereka bertiga. Dan yg membuat saya jatuh cinta sama adalah saat mereka makan.

Di episode pertama mereka ada adegan mereka sarapan. Bisa gitu ya, anak2 usia 27 bulan, inisiatif duduk sendiri di high chair, menunggu sarapan mereka disajikan, dan makan (fokus makan tanpa ngapa2in) dengan tenang dan tertib. Ayah mereka pasang alarm 30 menit sebagai penanda mereka harus makan dalam kurun waktu itu. Sarapan mereka pun menunya ada "daun-daun"nya, hal yg paling ga disuka sama anak kecil. Setelah nonton beberapa episode mereka, bisa diambil kesimpulan : Mereka senang sekali makan dan suka sekali sama makanan.

Panjang ya kayaknya kalau mau bahas kenapa mereka sangat tertib saat makan dan mereka cinta sekali sama makanan. Saya tidak akan bahas itu, soalnya ga kompeten dan bahasannya pasti cuma asumsi-asumsi, hehehehh. Harusnya Song Il Kook dan Jung Seung Yeon jadi ahli parenting nih kayak seleb2 di Indonesia :p

Balik lagi ke ponakan. Usaha saya membuat ponakan-ponakan saya duduk rapi dan makan, tidak sambil lari-larian beberapa kali saya coba kalau saya sedang ada kesempatan. Dan biasanya gagal, hahahh.

Dan sudah 2 malam ini saya berhasil bikin satu ponakan saya makan di meja makan. Happy dan bangga, hahahah. Yang satunya mah tetep, makan di tempat tidur depan tipi sambil tiduran T.T.

Intinya gitu, saya jadi terobsesi bikin anak kecil mau duduk dan makan dengan tenang. Tadi, segala macam mainan saya jejerin dekat meja makan. Sambil suapin, sambil jagain tangannya ga nuangin air kobokan di piringnya, sambil cerita dan puji2 kalau dia anak yg hebat kalau makan. Capek ya. Baru aunting padahal, belum parenting. Muahahahh.

Punya obsesi cara "mengasuh" anak itu sah-sah saja kan. Entah nanti bisa  terealisasi atau tidak. Belajar dulu tuh diterapkan di ponakan, ya kan? Hehehh.

Ya ampun, kumerasa tua menulis hal nyerempet parenting2 beginih.





Jumat, 21 Juli 2017

Log Out

Sudah 3 hari sejak terakhir saya membuka Instagram, sekitar 8 bulan mengabaikan akun-akun di twitter, dan sekitar 4 atau 5 tahun (lupa) men-deactive akun facebook.

Waktu akun fb saya deactive, saya memang sepenuhnya beralih ke twitter. Waktu itu dunia twitter memang sangat aktif dan seru sekali. Sampai saya merasa dunia twitter sudah sangat berbeda dengan waktu pertama kali punya akun di twitter. Timeline isinya hanya melulu adu argumen, tak lucu-lucu lagi lah pokoknya. Akhir tahun lalu akhirnya log out dan sampai sekarang belum log in lagi.

Nah, alasan saya kali ini untuk mencoba survive (lebayyy) tanpa instagram adalah instagram itu sangat menyita waktu dan menyedot kuota (hahahahh). Tujuan saya biasanya membuka instagram  bukan lagi seperti tujuan awal yaitu untuk melihat foto-foto Bu Ani Yudhoyono (yes, Bu Ani adalah alasan saya dulu membuat akun instagram :D). Instagram sekarang terlalu banyak drama (dan agak susah ya untuk tak ikut kepo :p), hoax, dan jokes receh (tapi suka juga sih, apalagi drama-ojol, hahahahh). Saya akan tetap sesekali mengunggah foto di instagram tapi habis itu langsung log-out lagi mungkin yah, takut khilaf.

Hari ke-3 tanpa sosial media sama sekali dan saya merasa baik-baik saja. Nyaman malah, tidak terdistraksi, lebih fokus, dan tentu saja hemat kuota kakak...

Tanpa sosial media juga membuat blog saya yg hampir 3 tahun terabaikan jadi up-date kembali. Berfaedah bukan? Eh, blog ini tergolong media sosial bukan sih?

Selasa, 18 November 2014

Naik Motor Ke Minimarket

Pagi itu saya pergi ke minimarket dekat rumah. Jaraknya lima menit berjalan kaki, mungkin sekitar 150 m. Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya berpapasan dengan tetangga saya. Rumahnya persis di sebelah rumah saya. Ia mengendarai motor dengan kecepatan rendah sembari melipir di pinggir jalan. "Mau ke mana Kak?" sapaku, "Ke Indomaret" jawabnya sembari menunjuk tujuannya, menyebutkan nama minimarket yang baru saja saya datangi. "Jalan kaki dong Kak...", kataku sambil cengengesan. Iya, saya mencoba menyampaikan kalimat itu dengan nada bercanda tapi saya sangat serius mengatakannya. 

Pemandangan seperti yang saya alami barusan mungkin bukan hal yang langka. Naik motor untuk menempuh jarak 100-200 meter merupakan hal yang sangat lazim dilakukan. Motor sudah seperti pengganti kaki. Sacha Stevenson pun sudah pernah memarodikannya di "How To Act Like Indonesian" entah episode berapa. Ya, saking melekatnya kebiasaannya itu dengan sebagian orang Indonesia. Di parodi itu Sacha ceritanya naik motor ke penjual bakso yang ternya cuma berjarak 10 meter dari tempatnya semula berdiri, hahahahh. 

Apakah hal ini hanya terjadi di daerah kota? Bagaimana dengan desa? Apakah desa masih seperti gambaran FTV-FTV yang masyarakatnya masih jalan kaki atau bersepeda kemana-mana? Beberapa bulan lalu saya pergi ke kampung ortu. Sekitar 7 jam ke arah utara dari kota Makassar jika ditempuh menggunakan bis. Pemandangan manusia mengendarai sepeda adalah hal yang sudah langka di sana. Semua orang menggunakan motor sebagai sarana transportasi sehari-hari. Belanja ke pasar, antar anak ke sekolah, pergi ke sawah dan kebun, bahkan dengan jarak yang sangat dekat pun semua dilakukan dengan mengendarai motor. Bahkan saudara saya ke warung yang hanya terpisah empat rumah pun naik motor. Hahahahh *ketawa miris*. "Orang di kampung sudah tidak ada lagi yang mau jalan kaki, malu!" kata tanteku, entah pernyataan itu serius atau bercanda. 

Hari ini harga bahan bakar untuk kendaaraan bermotor kembali dinaikkan. Masing-masing premium dan solar naik Rp2000 dari harga sebelumnya. Namun, saya tidak yakin orang-orang yang selalu naik motor dalam jarak dekat akan beralih ke jalan kaki. Sudah banyak kampanye yg dilakukan untuk mengurangi kemacetan dan emisi karbon. Ada Bike to work, beralih dari kendaraan pribadi ke umum, sampai nebeng-menebeng kendaraan. Tidak, saya tidak akan mengajak anda sekalian untuk ber-bike to work atau beralih ke kendaraan umum. Toh, kendaraan umum di daerah Sulawesi Selatan juga belum bisa diandalkan (apalagi di daerah pedesaan, hampir tidak bisa diandalkan). Saya cuma mengajak untuk berjalan kaki/bersepeda ke minimarket/pasar/konter pulsa atau apa saja yang jaraknya dekat dengan rumah. Tujuannya: mengurangi kemacetan di perempatan/pertigaan kecil dekat rumah masing-masing, irit bahan bakar, olahraga, bisa sapa-menyapa dengan tetangga yang kebetulan sedang di teras/halaman. Toh, waktu yang dihabiskan kalau kita berjalan kaki/bersepeda dibandingkan naik motor paling cuma beda beberapa menit. Kita bukan orang Jepang kan yang janjian sampai ditentukan menitnya, huehehehh. Saya tidak tahu cara menghitungnya, tetapi sepertinya akan cukup banyak bahan bakar yang bisa dihemat jika semua orang di negara ini mau berjalan kaki/bersepeda ke minimarket dekat rumah :D