Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2009

Ketika Nafsu Hedonisme Berkurang toh...

PKL kecil-kecilan, itu sebutan saya untuk kegiatan yang sudah saya jalani 2 minggu ini, dan masih kurang seminggu lagi. Minggu pertama, saya habiskan di sebuah dukuh di kabupaten bantul, tepatnya dukuh Jetis, desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan. Minggu kedua, di bangsal saraf dan anak rs. Sardjito.

Yah, dan dua minggu itu sukses membuat saya lebih sadar lagi kalo selama ini saya sangat beruntung mempunyai hidup seperti. Saya diberi materi yang cukup, kesehatan yang baik, keluarga yang selalu ada, dan masih banyak lagi yang mungkin sangat jarang saya syukuri. Mudah-mudahan ini bukan hanya euphoria semata. Semoga saya lebih sering bersyukur atas segala hal yang sudah saya punyai dan berhenti protes sana sini atas kehidupan ini *tsaahhhh.

Nafsu untuk hedon-hedon saya menjadi agak berkurang, jalan2 ke mall, nonton di xxi, belanja-belanja ga penting, makan2 enak, etc kayaknya ga bakal masuk agenda dalam beberapa hari ini. Walaupun memang dari dulu saya juga jarang2 melakukan kegiatan hedonisme, tapi kealpaan saya dengan hal seperti itu saat ini dengan alasan yang berbeda. Bukan saya sok peduli, sok2 merasa kasihan, atau apa dengan banyak orang yang jangankan untuk hedonisme, untuk makan saja mereka harus kerja keras, atau untuk hidup mereka harus berjuang sekuat tenaga, bukan itu. Saya lebih merasa, saya sudah cukup merasakan banyak kenikmatan hidup saat ini. Mungkin berhedon-hedon akan saya lakukan jika saya benar-benar butuh hiburan, bukan setiap saat seperti yang tak jarang saya lakukan.

Terakhir saya berharap ini bukan euphoria saja. Mudah2an hal ini bisa bertahan dan cukup lama.

Teman-teman lain, sekarang nafsu hedonisme sedang gimana? :)

Selasa, 01 September 2009

Telat dan Seceng

Suatu pagi di sebuah kelas, nampak seorang mahasiswa sedang menghitung-hitung uang seribuan yang lumayan *lumayan buat kipas-kipas* beserta recehan-recehannya, habis ngamen bang? Cek per cek ternyata itu uang hasil rampokan err bukan, tapi hasil denda telat pagi itu. Mahasiswa? Denda telat? Are u kidding me?

No, I'm not kidding you. Pertanggal 31 Agustus 2009 melalui suatu urung rembuk yang sangat alot sampai ada pertumpahan darah, halah, akhirnya diputuskan bahwa:
  • Yang telat masuk kuliah, ga peduli berapa menit, akan dimintai upeti sebesar seribu rupiah alis seceng dimana duit itu akan menjadi milik negara gabuza-family.
  • Para telaters akan dicatat dan ditagih (akan lebih baik klau sadar diri, sehingga tidak perlu ada pertumpahan darah) oleh petugas pencatat telat atau panggil saja mereka ekselat (eksekutor telaters).
  • Yang telat lebih dari 15 menit akan diberi keringanan g usah ikutin kuliah, loh? Kamsudnya, ga usah masuk gitu loh jeng!
  • No ngeyel!
Hahahh, jangan kaget gitu dong *idih... yang kaget siapa? dilempar sepatu*
Ini semua bukan tanpa alasan dilakukan. Dengan dimasukinya semester baru (dan kayaknya tahun terakhir, amin!), gabuza family ingin meninggalkan citra baik di depan paradosentercinta (catat, di depan, dibelakang? who knows?). Mendengar berita dari burung bul-bul yang ga sengaja seliwer-seliwer di gedung kuliah bahwa ada beberapa dosen yang murka dan berniat mengutuk para warga negara gabuza family (entah itu kutukan badan akan dipenuhi bulu atau bersin 7 hari 7 malam nonstop) sehubungan dengan punctuation alias ketepatan waktu. Para dosen itu tidak senang ketika akan mentransfer ilmunya ehh, para murid malah g ada atau saat lagi konsentrasi mentransfer ilmu tiba-tiba ada commercial break tiba-tiba lewat tanpa perasaan berdosa membuyarkan konsentrasi mereka.

Nah, atas latar belakang di atas maka peneliti ingin, halahhhh, maka beberapa orang di gabuza family, salah satunya saya, huehuehue (saya akui kalo saya adalah salah satu commercial break yang cukup sering muncul, ampunkan saya!) membuat keputusan di atas. Hmm, dengan adanya kepwar (keputusan warga) di atas, diharapkan para dosen yang akan mengutuk kami tidak jadi mengutuk kami, sebaliknya mendoakan kami akan cantik dan cakep selalu, diberi tambahan uang jajan dari orang tua, dan lulus tepat waktu (karna mereka sudah bosan melihat kami), amin!
Selain membuat warga gabuza family lebih on time, membuat dosen senang, upeti yang diperoleh juga bisa menambah pemasukan kas negara, hehehehhh! Lumayan... Asal jangan sering2 aja bayar upeti, nanti warganya bisa jatuh miskin.

Nah, apakah hal di atas akan sukses? Sukses membuat warga gabuza family on time atau sukses membuat beberapa warga gabuza family jatuh miskin? kita lihat saja nanti!