Kamis, 23 Desember 2010

Twibout: PUGS

Yah, sebelum hilang dimakan timeline *halah*, sebaiknya kita amankan!
Ini twibout (twit about) PUGS tanggal 18 Desember 2010

  • Woghh... sudah dibilangin berapa ratus kali kalau "4 sehat 5 sempurna" sudah tidak ada lagi di dunia ini.
  • Jadi, slogan "4 sehat 5 sempurna" itu sudah dikenal sejak tahun 1950. Bahwa, makanan yg bergizi adalah yg memenuhi "4 sehat 5 sempurna"
  • Nah, karena kita makin pintar, "4 sehat 5 sempurna" sudah tidak lagi relevan. Dan tahun 1994, berubah menjadi "Pedoman Umum Gizi Seimbang"
  • Dan akhirnya, pada tahun 2002, disempurnakan lagi menjadi "13 Pedoman Umum Gizi Seimbang"
  • Yes, Thirteen, lucky number. 1. Makanlah Aneka Ragam Makanan. Jangan seperti kura2 saya, makannya pelet aja :))
  • 2. Makanlah makanan u/ memenuhi kecukupan energi u/ kegiatan sehari-hari. Jgn makan porsi kuli tapi cuma tidur seharian :))
  • 3. Makanlah mknn smbr karbohidrat (nasi,mie,roti,ubi,dll) 1/2 dr kbthan energi. Ini pke hitungan dikit, tanya lbh lanjut, bayar
  • 4. Batasi konsumsi lemak dan minyak, 1/4 dr kcukupan energi. Klo tanya ttg tweet sebelum ini, bonus tanya ini juga dah
  • 5. Gunakan garam beryodium. Selain gondok, kekurangan yodium juga berdampak pada tingkat kecerdasan loh tweeps...
  • Nah, yg jrg diketahui, yodium itu zat yg mudah menguap. So, penggunaan garam beryodium baiknya sesaat sebelum makanan disantap
  • 6. Makanlah makanan sumber zat besi. Apalagi umur2 remaja seperti saya, butuh banget... Jangan makan besinya tweeps
  • Smbr zat besi: bhn pangan hewani, kacang2an, sayuran hijau. Tp, perlu diingat, yg plg baik diserap itu yg dr hewani (daging, ikan, telur)
  • 7. Berikan ASI pada bayi sampai umur 6 bulan. Salut deh sama ibu yg bisa kasih ASI Ekslusif *menjura*
  • 8. Biasakan sarapan. Jangan kyk saya tweeps, kadang dijamak sama makan siang (ˉ_ˉ")
  • 9. Minumlah air bersih, aman, & jumlahnya cukup. Jgn terapkan "sambil menyelam minum air" ya tweeps, kasihan ginjalnya klo b'lebihan
  • Kata dosen saya, manusia itu seperti kantong air berjalan krn +-60% berat badan manusia adlh air. Bisa dibayangkan bgaimana pentingnya air.
  • 10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur. Yah, agak susah memang klo mau konsisten b'olahraga
  • 11. Hindari minum minuman beralkohol. Ah, ini mah ga susah ya tweeps, ya gak? *cheers* *pake wine*
  • 12. Makanlah mkanan yg aman bgi kesehatan. Klo ini mah gmpang2 susah. Mmang kita dituntut aktif mncari tau bgaimana mknn yg aman itu
  • 13. Bacalah label makanan yg dikemas. Mulai dari ingridiens, komposisi, expired date. Jgn lihat tempelan harganya doang tweeps :P
  • Eh, serius deh, membaca kandungan nilai gizi di kemasan makanan itu menyenangkan loh tweeps. Minimal kita taulah brp kalori yg kita makan.
  • Bagi yg ga mau rugi sperti saya, kita bisa membandingan nilai gizi 2 produk dgn harga yg sama. Kalau saya tentu pilih yg lebih dong...
Sekian, terima kasih :)

Senin, 06 September 2010

Perkelahian Anak Kecil, namanya juga anak-anak!

Langsung saja

Jadi, ceritanya pas tadi sehabis sholat maghrib, seperti biasa adekku dan gengnya yang paling kecil biasanya main di halaman masjid depan rumah. Seperti biasalah, anak kecil, main bareng, cekikikan bareng dan dang! Tiba-tiba ada yang nangis.

Kali ini giliran adekku yang nangis. Ngehehehh. Menurutku, hal biasalah itu kalo anak kecil main bareng trus nangis. Tapi, biasanya mereka cepat lupa dan besok main bareng lagi.

Tapi tadi, sambil nangis, adekku masuk ke rumah trus bikin laporan ke Ayahku. Sambil nangis dia merengek ke Ayah "Ayah, marahi ki' itu Anu, bla..bla..bla..". Intinya, adekku meminta kepada Ayah untuk memarahi temannya yang bikin dia nangis. Terus, apa jawaban Ayah "Ih, nda mauja' saya, kau tompa kau di situ baku berkelahi". Intinya, Ayah ga mau ikut campur urusan anaknya.

Saya ingat, dulu waktu jaman saya masih SD, saya pernah terlibat perkelahian yang sengit *halah* dengan seorang teman saya. Kayaknya, waktu itu sampai jambak-jambakan, muhahahh. Sepulang sekolah, saya kemudian menceritakan hal tersebut kepada Mama saya. Dan tebak, apa reaksi Mama saya? Mama malah marahin saya T__T Dia bilang itu urusan saya sendiri, kalau saya ngelapor sama Mama saya malah hanya akan tambah dimarahin, Huahh... Ibu yang tega, saya pikir waktu itu. Derita belum berakhir.

Besoknya pas masuk sekolah, teman berantem saya datang sama Maminya. Makk... Ciutlah saya, dengan dukungan dari teman-teman kelas waktu itu (untung banyak teman saya membela saya *terharu*), saya akhirnya sukses diomelin, huehehehh.

Hehehehh... Kalau untuk urusan kayak gini, Ayam sama Mama saya memang kompak. Dari dulu, mereka tidak pernah dan tidak mau mencampuri urusan perkelahian anaknya. Mereka berpendapat kalau urusan anak-anak biarlah anak-anak yang menyelesaikan, orang tua tak perlulah ikut campur.

Saya jadi berpikir, mungkin orang tua saya ada benarnya juga. Kalau setiap perkelahian anak kecil ada orang tua yang terlibat di dalamnya, mungkin tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya akan memperkeruh hubungan orang tua satu dengan orang tua lainnya. Bukankah kalau anak-anak berselisih paham mereka akan segera lupa dan berbaikan kembali??

Ntar, kalau saya juga punya anak mungkin saya juga akan bersikap yang sama dengan orang tua saya :D
So, para orang tua, tak usahlah terlalu mempermasalahkan perkelahian anak kecil. Namanya juga anak-anak...


Kamis, 26 Agustus 2010

Ayah dan Kuliahnya

Beberapa menit yang lalu, saya, ayah, dan adek2 saya sedang ngumpul di ruang keluarga. Habis makan malam telat. Tak ada angin tak ada hujan, ayah saya kemudian bercerita. Sebenarnya, malam ini sangat banyak cerita yang diceritakan ayah, mulai dari kisah orang tua yang mulai dilupakan anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa (sumpah, klo ga diselingi dengan candaan dari saya dan adek2, aku mesti wis mbrambangi), cerita masa kecil ayah, cerita waktu kuliah, cerita pas ketemu sama mama, dll (banyak toh? Yo emang lama tadi Ayah ceritanya :)) )

Tapi, karena cerita kemaren saya baru selesai kuliah (Alhamdulillah, walaupun nilainya mepet yang penting tepat waktu *pembelaan diri :P*), jadi saya mau nulis tentang pengalaman kuliah ayah saya saja. Yang lain-lain mungkin lain waktu.

Ayah saya adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Beliau asli anak gunung, huehehehh. Katanya, pas masih SD aja harus jalan kaki 30 km baru bisa nyampe sekolah. Sebetulnya, Ayah saya bisa kuliah itu juga karena suatu faktor keberuntungan. Biasanya, anak lelaki dari kampung ayah saya jaman itu tidak ada yang sampai mengecap bangku kuliah. Anak laki-laki, seusai sekolah biasanya pergi berlayar (yah, seperti lagu kali ya, nenek moyangku seorang pelaut). Namun, waktu itu Ayahku beruntung. Ada seorang pamannya yang menyarankannya untuk melanjutkan kuliah saja. Sebenarnya, seperti masalah pada umumnya, faktor biaya menjadi penghambat untuk ayahku melanjutkan kuliah. Bagaimana tidak? Kakek saya (ayahnya ayah) hanya seorang pensiunan tentara, mana ada uang? Mana adeknya ada 7 orang? Namun, paman ayah berkata pada ayah: "Insya Allah nak, kau pasti punya rejekimu sendiri"

Dengan modal keyakinan, berangkatlah Ayah saya ke kota untuk melaksanakan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Singkat cerita, ayah saya diterima di salah satu jurusan yang lumayan terkemuka *halah*. Ayah saya cerita, semasa kuliah dia tinggal di rumah yang dikontrak bersama teman-temannya. Rumah ini berdinding anyaman bambu dengan alas tanah (Sedih banget kan?). Isinya hanya tempat tidur, meja (yg dibawakan kakek dari kampung), dan kursi. Karena mejanya terlalu rendah u/ dipakai belajar, maka alasnya diberi beberapa tumpukan batu bata. Oh iya, katanya ayah juga cuma punya satu buah piring selama tinggal disitu. Makanan andalannya: Nasi Goreng. Eitt... jangan bayangin nasi goreng lengkap dengan ayam atau telur. Nasi gorengnya hanya berupa nasi yang digoreng dengan sedikit minyak dan bawang, kadang ada tambahan kacang goreng, kadang (huah... kasihan banget!).

Karena kondisi ekonomi tambah tidak memungkinkan, akhirnya Ayah memutuskan untuk mencari kerja sambilan. Dan akhirnya ayah bekerja sebagai tukang sobek karcis pertunjukan di salah satu bioskop ternama di kota ini. Setelah itu, Ayah naik pangkat menjadi tukang yang ngambilin film untuk kemudian dikirim ke daerah-daerah sekitar (aduh, ga tau istilahnya apa). Oh iya, kata Ayah, nama bosnya waktu itu Tuan Surejh (jyah... India bgt. Emang orang India sih :P). Semenjak itu, Ayah sudah membiayai kehidupannya sendiri. Ga cuma itu, Ayah juga sempat jadi tukang batu bata sampai peternak burung puyuh.

Ayah saya memang bukan satu-satunya orang yang berjuang untuk membiayai kuliahnya sendiri. Banyak orang lain yang mungkin perjuangannya lebih keras dibanding Ayah saya. Namun, saya salut dengan Ayah saya. Ayah saya bahkan bisa membiayai kuliah beberapa adiknya.

Kalau mau dibandingkan dengan saya, jauuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!
Saya tidak perlu bersusah payah mikirin uang kuliah, makan, tempat tinggal, dan lainnya. Bahkan saya merasa semua kebutuhan saya telah terpenuhi bahkan berlebih. Itupun kadang saya merasa masih ada sesuatu yang kurang, padahal, ga bisa dibandingkanlah dengan perjuangan Ayah saya semasa kuliahnya.

Sekali lagi, salut untuk Ayah saya dan semua orang-orang yang berjuang keras untuk dapat merasakan bangku kuliah. Hormat saya untuk Anda semua!

(Rumah, 27 Agustus 2010, 00.58 WITA)