Saya selalu deg-degan kalau masuk ke mall yang baru pertama kali saya kunjungi. Sebenarnya tidak cuma Mall tapi juga gedung-gedung beasar yang di dalamnya banyak ruangan, kayak hotel, gedung perkantoran, dan rumahnya Nassar-Musdalifah (tapi yg ini saya belum pernah masuk). Saya takut nyasar dan tidak bisa keluar dari dalam gedung. Saya belum tau apa ini salah satu jenis phobia, walaupun saya juga belum sampai tahap ini sih. Dari phobialist.com saya juga tidak menemukan phobia jenis ini (malah geleng2 baca jenis-jenis phobia yang aneh bin ajaib, masa ada phobia sama tangan *tercekat*).
Sebenarnya hal ini belum terlalu mengganggu sih, cuma kadang merasa konyol sendiri. Apalagi kalau masuk bangunan sendirian. Padahal kan banyak orang yang bisa ditanya kalau misalnya pun saya akhirnya nyasar. Tetap saja kalau sudah mulai di dalam gedung pasti agak deg-degan apalagi kalau tidak berhasil menemukan jalan keluar. Kejadian yang paling traumatik (halah!) itu pas saya masuk ke Plaza Tunjungan Surabaya. Pas masuk, pede, dan karena niatnya memang cuma ngadem dan pinjam toilet jadi tidak masuk ke toko-toko di dalamnya. Sewaktu mencari pintu keluar, tiba-tiba bingung saya ada dimana, siapa saya, apa yang terjadi, dimana anakku... Oke, serius. Saya betul-betul panik dan entah kenapa saat itu saya tidak bertanya ke satpam Mall yang seingat saya saat itu banyak mondar-mandir. Dan akhirnya... Saya bisa keluar dari situ, lewat pintu masuk barang. Blah.
Jadi, apakah saya akan menghindari memasuki mall, hotel, dan bangunan apa saja yg dalamnya bisa bikin saya nyasar? Oh tentu tidak. Kalau masuk ke "tempat baru" seperti itu saya biasanya sudah siap-siap. Hafal jalan keluar, tau posisi saya dalam gedung, dan menandai tanda-tanda yang dapat memudahkan untuk menuju jalan keluar. Yah walaupun kadang juga masih sering nyasar sih. Saya jadi mikir mungkin akan lebih baik kalau saya punya GPS khusus untuk dalam gedung, ada ga sih?
Akhir pekanku kali ini sangat produktif dengan tema All About Daniel Kim. ("--)/||tembok kosan||
Pertama kali mendengar karya Daniel Kim di radio sekitar sebulan yang lalu. Pop Danthology 2012, yaitu mash-up sekitar 50 lagu pop internasional yang dirilis dan populer di tahun 2012. Saya langsung tertarik ketika pertama kali dengar. Beberapa hari setelah itu, akhirnya saya carilah itu dan ketemu linknya berupa video di Youtube. Ternyata selain lagu, video klipnya juga di-mash-up. Ah, saya tambah suka lalu mengunduh dan ditonton beberapa kali. Namun sampai di situ saja.
Sabtu, 10 Januari 2012 saya insomnia karena depresi. Kapan-kapan saya akan cerita tentang depresi saya ini karena sekarang kalau membayangkan masih membuat saya patah hati. Lanjut...
Akhirnya saya mencari hiburan di Youtube dan teringat ingin melihat Pop Danthology 2011 dan 2010 yang dibuat oleh orang yang sama. Menurut saya, keduanya tidak sebagus Pop Danthology 2012. Penelusuran pun saya lanjutkan dengan langsung ke kanal Daniel Kim di Youtube, kemudian saya menyaksikan ini...
Fufufu, selain jago mash-up lagu-lagu ternyata suaranya bagus. Penelusuran pun terus berlanjut dan akhirnya nonton beberapa video. Kemudian fakta-fakta selanjutnya ditemukan: jago dance, bisa main gitar, dan he's a teacher. Aih mak. Namun belum memutuskan untuk nge-fans. Artis-artis lain juga banyak yg suaranya bagus, jago main alat musik, dan jago nge-dance yah walaupun mungkin ga jago bikin mash-up lagu-lagu.
Perlu saya jelaskan dulu kalau saya tidak punya artis/penyanyi/apalah-itu-semua idola. Pun saya sangat suka sama sebuah lagu misalnya, saya tidak akan terlalu tertarik dengan penyanyi-nya secara personal. Cukup mengagumi dan menikmati karyanya. Padahal saya pengen gabung ke PSL (Princess Syahrini Lovers) kalau bisa cabang Jogja supaya dekat, soalnya saya penasaran-entah-mengapa. Tapi saya kan ga nge-fans sama Syahrini. Sad.
Like facebook fans page, done. Follow twitter account, done.
Kemudian saya menemukan tautan salah postingan blog Daniel Kim. Judulnya kembali membuat saya tertarik : Race and The Obsessive Personality Jews and Koreans *klik*. Selanjutnya, tulisan ini yang membuat saya akhirnya nge-fans dengan Daniel Kim. Yah, blog-nya tentang obsessive-compulsive personality disorder (OCPD) membuat saya kembali ber-wow. Walaupun saya tidak tahu tentang OCPD, namun tulisan Daniel tentang itu dan hal-hal yang berkaitan tentang psikologi lainnya sangat menarik dan mudah dimengerti tapi tetap ilmiah.
Namun, tidak bisa dipungkiri. Gabungan keseluruhan yang saya tulis di atas yang membuat saya memutuskan mulai nge-fans Daniel Kim sejak 13 Januari 2013 pkl 03.27 WIB. Ditambah pembawaannya yang menyenangkan (entahlah klo cuma pencitraan, semoga tidak), itu sudah!
Silahkan ke sini kalau mau tahu semua jejak digital Daniel Kim.
Belakangan saya baru sadar kalau saya nge-fans orang Korea Selatan. Sangat mainstream seperti anak muda masa kini, hahahahh. Daniel Oppa, kya...
Kemarin di radio saya mendengarkan sebuah lagu. Lagu itu kemudian mengingatkanku akan seseorang. Langsung, tanpa mikir. Setelah saya cari tahu, lagu itu berjudul Impossible yang dinyanyikan oleh James Arthur. James memang membawakan kembali lagu ini dengan lebih laki (yaiyalah, yg nyanyi laki!) setelah sebelumnya dinyanyikan oleh Shontelle dengan lebih cewek (aakkk... dihajar bolak-balik.). Oke, saya memang tidak berbakat menggantikan Bens Leo menjadi pengamat musik yang sering nongol di infotainment.
Kembali ke Impossible. Kepada siapa saya teringat dengan lagu ini? Dia adalah Osha, teman kos saya dulu. Kenapa lagu ini mengingatkan saya? Tentu saja bukan karena lirik (yang baru hari ini saya googling), dia sudah punya pacar dan saya masih suka pria. Impossible-nya Shontelle adalah satu dari banyak ringtone yang pernah dipakai Osha yang teringat di otak saya. Osha tergolong teman yang menurut saya cukup sering mengganti ringtone hp (dibanding saya yg ganti 6 bulan sampai setahun sekali, mungkin).
Jadi ini mau cerita tentang Osha atau Impossible?
Bukan keduanya. Ini tentang lagu yang tiba-tiba mengingatkan tentang seseorang dan ketika kau mendengarnya lagi dan lagi maka seseorang itu yang akan kau ingat. Tentu saya tidak membicarakan tentang romantisme yang mungkin ada di benak sebagian orang saat membicarakan lagu dan kenangan. Saya kasih contoh lainnya. Ketika saya mendengar Tentang Seseorang-nya Anda, yang ada di ingatan saya adalah sepupu saya. Kenapa? Saya ingat sekali komentarnya waktu lagu itu terputar di playlist hp saya saat kami berbagi earphone "Kau dari SMP sampai sekarang (waktu itu kami sudah sama2 kuliah) masih suka dengar lagu ini". Selanjutnya ketika mendengar lagu Tentang Seseorang, maka komentar sepupu saya itu yang teringat.
Ini bukan tentang lagu kenangan yang disengaja dan (sekali lagi) penuh romantisme. Saya teringat Intan ketika mendengar First Love-nya Nikka Costa, teringat Ayah ketika mendengar Mr.Simple-nya SuJu (ketika booming, Ayah saya sering nyanyi lagu ini. Hahahh), atau teringat Ippy ketika mendengar Owl City yang saya lupa judulnya. Tidak semua teman bahkan teman dekat mempunyai, ehm saya menyebutnya dengan, lagu pengingat. Namun ada juga yang cuma kenal sepintas tapi dia punya lagu pengingat di otakku. Sepertinya otakku yang memilih, bukan saya (catatan: kemungkinan otakku tidak menjadi satu bagian dengan diriku). Hal-hal sederhana dan biasanya tidak disengaja dapat membuat sebuah lagu menjadi lagu pengingat. Selama ini saya tidak bisa memilih lagu pengingat seseorang
Saya suka ketika sebuah lagu bisa menjadi pengingat dengan seseorang. Supaya tidak gampang melupakan atau tidak sengaja terlupakan dgn seseorang. Mengutip kalimat Kevin di Home Alone 2 "Maybe they don't forget about you, but they forget to remember you". Kalau lagunya malah mengingatkan orang yang mau kita lupakan gimana dong? Itu sih derita masing-masing ya... :p