Kamis, 05 Desember 2013

16 Tahun Good Will Hunting



Hari ini, 16 tahun yang lalu, film Good Will Hunting rilis di Amerika. Oh, tentu saja saya tidak nonton pada saat itu. Tontonan film layar lebar saya waktu sd cuma sebatas Tutur Tinular. Banyak film-film bagus yang "Yaelah Bro telat banget" baru ku tonton bertahun-tahun setelah filmnya rilis. Salah satunya adalah film ini. Pertama kali nonton film ini waktu kelas 2 atau 3 SMA, entahlah saya agak lupa. Bersama film Education Of Little Tree, waktu itu saya nonton bareng dengan beberapa teman.

Beberapa waktu lalu, untuk kedua kalinya saya menonton kembali film yang dibintangi oleh Matt Damon, Robin Williams, dan Ben Affleck itu (saya baru nyadar belakangan kalau ada Ben Affleck di film ini -.-). Rasanya beda! Memang pengalaman hidup sangat berpengaruh ya terhadap sensasi dan rasa waktu menonton film. Samalah kayak sewaktu dengar lagu trus tiba-tiba nyeletuk "Nih lagu gue banget ini!", hahahah. Setidaknya itulah yang saya alami. Nonton film ini waktu SMA dibandingkan masa kini, film ini lebih terasa. Kalau dulu cuma perhatian tentang "pokoknya Will Hunting itu pinter walaupun ga sekolah tinggi2". Waktu kemarin nonton lagi, hal-hal tentang persahabatan, romansa, trauma psikis akibat masa lalu, memperjuangkan cinta, dan lain-lain semuanya dipikirin. Selain adegan dewasa, mungkin itu juga ya alasan kenapa film ada segmentasi umur :D. Ini kutipan favorit saya di film ini: "You wasted $150,000 on an education you could got for $ 1,50 in late fees at the public library" - Will Hunting. 

Sudah. Pokoknya yang belum nonton silahkan ditonton. Yang sudah pernah nonton tapi mau nonton ulang, silahkan tonton ulang. Siapa tau sensasinya beda!

foto dari sini

Minggu, 01 Desember 2013

Tentang Polisi Tidur

Saya yakin, semua orang yang membangun polisi tidur di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing tidak ada yang mempunyai niat tidak baik. Mereka berharap, dengan adanya polisi tidur maka jalanan di sekitar tempat tinggalnya akan lebih aman karena semua kendaraan yang melintas akan mengurangi kecepatannya. Polisi tidur buatan warga pun biasanya dibuat di tempat-tempat di mana banyak anak kecil bermain (maklum, tempat bermain gratis di luar ruangan untuk anak kecil semakin sedikit), ada tempat beribadah, atau pemukiman padat penduduk.

Namun, belakangan ini saya kok malah merasa sebal ya sama pembuat polisi tidur ini. Polisi tidur tambah banyak saja dimana-mana. Yah, mungkin karena pertumbuhan jumlah polisi tidur berbanding lurus dengan pertumbuhan kendaraan pribadi. Walaupun niatnya mungkin baik tapi kok saya sebagai pengguna jalan harus merasakan ketidaknyamanan yah? Apalagi dengan polisi tidur yang dibangun (atas inisiatif warga sekitar) di jalan utama (bukan gang atau kompleks perumahan). Mana kalau bangun polisi tidur sekarang ga main-main (ngasalnya). 

"Alah, jangan lebai deh. Kalau lewatinnya pelan-pelan kan ga papa!" Sekali- dua kali mungkin ga papa. Lah kalau tiap hari dan banyak? Di wikipedia tentang polisi tidur ini juga ada dibahas tentang dampak kesehatan polisi tidur yang tidak memenuhi ketentuan. Silahkan baca artikel ini juga kalau mau baca contoh kasus yang lebih banyak. Entah cuma saya atau ada yang lain juga yang perutnya merasa ga nyaman sesaat setelah melewati polisi tidur, padahal kecepatan kendaraan sudah saya turunkan. Apa mesti kendaraannya dimatikan kemudian didorong? Blah. Saya sering mikir kalau ada kendaraan yang sedang buru-buru membawa ibu yang mau melahirkan, kemudian melewati polisi tidur dengan tidak menurunkan kecepatan apa ibunya ga melahirkan sesaat ya? -.-.

"Ya tapi gimana dong? Kalau ga ada polisi tidurnya jadi pada ngebut. Kan bahaya banyak anak kecil dan pemuda?" (ini serius, di salah satu gang di Jogja ada plang peringatan untuk menurunkan kecepatan karena banyak pemuda). Huhuhh, saya kemudian bingung dan tidak punya solusi :(. Di sini memang tidak cukup sekadar menuliskan rambu-rambu untuk membatasi kecepatan kayaknya ya. Sama saja kayak marka jalan yang kayaknya cuma boros-boros cat putih. Mungkin, paling tidak membuat polisi tidur harus sesuai dengan ketentuan (ada di tautan wikipedia sebelumnya). Sayang di ketentuan itu saya tidak menemukan berapa jarak minimal antara satu polisi tidur dengan yang lain. Ada gang yang tiap 10 meter dibuatkan polisi tidur. Ada banget. Sebenarnya saya bisa banget loh protes kepada pembuat polisi tidur untuk menghilangkan polisi tidur yang dibuatnya. Silahkan baca penjelasan hukum tentang pembuatan polisi tidur di sini. Paling-paling disinisin "Kamu Geng Nero ya? Polisi tidur kan buat ngamanin jalan biar yang lewat pada pelan-pelan!". Ya begitulah.

Rabu, 27 November 2013

Mencari Karmila

"Karmila ada ga bu?" "Karmila-nya ada ga pak?" "Ada Karmila?"

Itulah saya beberapa hari lalu yang sedang berusaha mencari Karmila, novel pertama Marga T. yang terbit tahun 1971, di salah satu tempat membeli buku yang cukup terkenal di Yogya. Pertama kali berkenalan dengan Karmila waktu saya masih SD. Melalui sebuah sinetron yang ditayangkan di Indosiar saya mengenal Karmila dan Faisal, yang waktu itu diperankan oleh Paramitha Rusady dan Teddy Syach. Dulu jatuh cinta sama Teddy Syach juga gara-gara perannya sebagai Faisal (dulu ya, dulu...). Waktu itu musim banget ya kayaknya membuat sinetron yang diangkat dari novel-novel Indonesia (ah, nostalgia!). Bertahun-tahun setelah itu, entah apa yang membuat saya kembali teringat dengan Karmila. Saya kemudian membaca beberapa resensi tentang novel itu yang membuat saya jadi lebih tertarik untuk membaca novelnya. Baru beberapa hari yang lalu saya merealisasikan niat saya untuk mencari novel Marga T. itu. 

Apa yang membuat saya ingin membaca Novel Karmila? Waktu menonton sinetron Karmila waktu itu, saya masih SD (Yaelah, anak SD nonton sinetron. Ga heran gedenya hobi (nontonin) drama di kehidupan nyata XD). Pasti kapasitas berpikir pas saya SD dibandingkan sekarang pasti beda. Hmm, beda ga sih? Jadi ragu sendiri. Waktu itu saya jatuh cinta sama tokoh Faisal (toyor dah nih anak SD satu!). Lelaki brengsek yang menghamili Karmila yang akhirnya jadi sosok Ayah yang rela melakukan apa saja demi anaknya :'). Selain itu, melalui resensi yang saya baca, cerita di novel Karmila lebih kompleks karena adanya masalah agama. Seingat saya, waktu nonton sinetronnya tidak ada disinggung mengenai agama Karmila atau Faisal di situ. Apalagi dengan berlatar tahun 70-an pasti setting cerita di novel Karmila agak berbeda dengan novelnya yang bersetting 90-an. 

Sayangnya pencarian saya akan Karmila kemarin tidak berhasil. Kata penjual di beberapa kios, sudah lama sekali novel itu tidak ada. Ahh...
Ada yang tahu di mana saya bisa bertemu Karmila? Kalau ada kasih tau ya...