Minggu, 01 Desember 2013

Tentang Polisi Tidur

Saya yakin, semua orang yang membangun polisi tidur di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing tidak ada yang mempunyai niat tidak baik. Mereka berharap, dengan adanya polisi tidur maka jalanan di sekitar tempat tinggalnya akan lebih aman karena semua kendaraan yang melintas akan mengurangi kecepatannya. Polisi tidur buatan warga pun biasanya dibuat di tempat-tempat di mana banyak anak kecil bermain (maklum, tempat bermain gratis di luar ruangan untuk anak kecil semakin sedikit), ada tempat beribadah, atau pemukiman padat penduduk.

Namun, belakangan ini saya kok malah merasa sebal ya sama pembuat polisi tidur ini. Polisi tidur tambah banyak saja dimana-mana. Yah, mungkin karena pertumbuhan jumlah polisi tidur berbanding lurus dengan pertumbuhan kendaraan pribadi. Walaupun niatnya mungkin baik tapi kok saya sebagai pengguna jalan harus merasakan ketidaknyamanan yah? Apalagi dengan polisi tidur yang dibangun (atas inisiatif warga sekitar) di jalan utama (bukan gang atau kompleks perumahan). Mana kalau bangun polisi tidur sekarang ga main-main (ngasalnya). 

"Alah, jangan lebai deh. Kalau lewatinnya pelan-pelan kan ga papa!" Sekali- dua kali mungkin ga papa. Lah kalau tiap hari dan banyak? Di wikipedia tentang polisi tidur ini juga ada dibahas tentang dampak kesehatan polisi tidur yang tidak memenuhi ketentuan. Silahkan baca artikel ini juga kalau mau baca contoh kasus yang lebih banyak. Entah cuma saya atau ada yang lain juga yang perutnya merasa ga nyaman sesaat setelah melewati polisi tidur, padahal kecepatan kendaraan sudah saya turunkan. Apa mesti kendaraannya dimatikan kemudian didorong? Blah. Saya sering mikir kalau ada kendaraan yang sedang buru-buru membawa ibu yang mau melahirkan, kemudian melewati polisi tidur dengan tidak menurunkan kecepatan apa ibunya ga melahirkan sesaat ya? -.-.

"Ya tapi gimana dong? Kalau ga ada polisi tidurnya jadi pada ngebut. Kan bahaya banyak anak kecil dan pemuda?" (ini serius, di salah satu gang di Jogja ada plang peringatan untuk menurunkan kecepatan karena banyak pemuda). Huhuhh, saya kemudian bingung dan tidak punya solusi :(. Di sini memang tidak cukup sekadar menuliskan rambu-rambu untuk membatasi kecepatan kayaknya ya. Sama saja kayak marka jalan yang kayaknya cuma boros-boros cat putih. Mungkin, paling tidak membuat polisi tidur harus sesuai dengan ketentuan (ada di tautan wikipedia sebelumnya). Sayang di ketentuan itu saya tidak menemukan berapa jarak minimal antara satu polisi tidur dengan yang lain. Ada gang yang tiap 10 meter dibuatkan polisi tidur. Ada banget. Sebenarnya saya bisa banget loh protes kepada pembuat polisi tidur untuk menghilangkan polisi tidur yang dibuatnya. Silahkan baca penjelasan hukum tentang pembuatan polisi tidur di sini. Paling-paling disinisin "Kamu Geng Nero ya? Polisi tidur kan buat ngamanin jalan biar yang lewat pada pelan-pelan!". Ya begitulah.

Rabu, 27 November 2013

Mencari Karmila

"Karmila ada ga bu?" "Karmila-nya ada ga pak?" "Ada Karmila?"

Itulah saya beberapa hari lalu yang sedang berusaha mencari Karmila, novel pertama Marga T. yang terbit tahun 1971, di salah satu tempat membeli buku yang cukup terkenal di Yogya. Pertama kali berkenalan dengan Karmila waktu saya masih SD. Melalui sebuah sinetron yang ditayangkan di Indosiar saya mengenal Karmila dan Faisal, yang waktu itu diperankan oleh Paramitha Rusady dan Teddy Syach. Dulu jatuh cinta sama Teddy Syach juga gara-gara perannya sebagai Faisal (dulu ya, dulu...). Waktu itu musim banget ya kayaknya membuat sinetron yang diangkat dari novel-novel Indonesia (ah, nostalgia!). Bertahun-tahun setelah itu, entah apa yang membuat saya kembali teringat dengan Karmila. Saya kemudian membaca beberapa resensi tentang novel itu yang membuat saya jadi lebih tertarik untuk membaca novelnya. Baru beberapa hari yang lalu saya merealisasikan niat saya untuk mencari novel Marga T. itu. 

Apa yang membuat saya ingin membaca Novel Karmila? Waktu menonton sinetron Karmila waktu itu, saya masih SD (Yaelah, anak SD nonton sinetron. Ga heran gedenya hobi (nontonin) drama di kehidupan nyata XD). Pasti kapasitas berpikir pas saya SD dibandingkan sekarang pasti beda. Hmm, beda ga sih? Jadi ragu sendiri. Waktu itu saya jatuh cinta sama tokoh Faisal (toyor dah nih anak SD satu!). Lelaki brengsek yang menghamili Karmila yang akhirnya jadi sosok Ayah yang rela melakukan apa saja demi anaknya :'). Selain itu, melalui resensi yang saya baca, cerita di novel Karmila lebih kompleks karena adanya masalah agama. Seingat saya, waktu nonton sinetronnya tidak ada disinggung mengenai agama Karmila atau Faisal di situ. Apalagi dengan berlatar tahun 70-an pasti setting cerita di novel Karmila agak berbeda dengan novelnya yang bersetting 90-an. 

Sayangnya pencarian saya akan Karmila kemarin tidak berhasil. Kata penjual di beberapa kios, sudah lama sekali novel itu tidak ada. Ahh...
Ada yang tahu di mana saya bisa bertemu Karmila? Kalau ada kasih tau ya... 

Selasa, 21 Mei 2013

Pacco, Sashimi A la Sulawesi Selatan









Pertama kali mencoba sajian ini di rumah waktu masih kecil, mama yang membuatkan. Sajian ini memang salah satu kuliner dari kampung Ayah dan Mama saya di kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Kami  semua tinggal di Makassar, daerah yang terkenal dengan kekayaan hasil lautnya, maka ikan yang digunakan bisa bermacam-macam, tergantung selera pembuat. Kalau a la rumahku, ikan yang biasa digunakan ikan teri putih. Selain karena teri putih merupakan ikan favorit mama, ikan jenis ini juga harganya murah, bisa ditemukan kapan saja, dan mudah untuk diolah. 
Kenapa saya bilang ini sashimi a la Sulawesi Selatan? Karena pengolahannya tidak melalui proses pemasakan. Bisa dibilang ikan yang dikonsumsi dalam keadaan mentah seperti sashimi. Sashimi, salah satu kuliner Jepang yang sudah tidak asing lagi disebagian besar telinga Indonesia. Sajian yang terdiri dari ikan segar mentah itu biasanya dikonsumsi langsung begitu saja atau dimakan bersama nasi sushi dan bumbu khas jepang, wasabi.
Namun, karena kita adalah Indonesia, dimana sajian kulinernya terkenal dengan bumbu dan rasa yang tajam maka, maka menu pacco hadir dengan ciri khas kuliner Indonesia itu. Namun jangan khawatir, pembuatannya sangat sederhana dan mudah. 

Berikut adalah resepnya:

Bahan:
  1. Ikan teri segar
  2. Jeruk nipis
  3. Jeruk sambel
  4. Lombok kecil (sesuai selera)
  5. Kacang tanah goreng
  6. Garam
Cara Membuat:
  1. Bersihkan ikan teri dari kepala dan tulangnya. Lalu cuci kembali dengan air matang.
  2. Tambahkan perasan air jeruk nipis ke ikan yang sudah bersih, rendam selama 10 menit, sisihkan.
  3. Ulek lombok, kacang tanah, dan garam. 
  4. Peras ikan yang sudah disisihkan tadi sampai air jeruk nipisnya hilang.
  5. Tambahkan bumbu yang sudah diulek ke dalam ikan dan tambahkan jeruk sambel. Aduk sampai rata. 

Tips:
- Ikan teri yang digunakan harus benar-benar segar, baru naik dari lautlah kalau bisa. Jika ikannya kurang segar, ikan akan amis dan mudah hancur saat diolah.
- Perasan jeruk nipis yang digunakan agak banyak. Selain untuk menghilangkan bau amis, air jeruk nipis juga berfungsi untuk membunuh bakteri yang ada di ikan. Jeruk nipis juga bisa diganti dengan cuka dapur.



Sajian ini enak dikonsumsi bersama dange, makanan yang berasal dari daerah yang sama yang terbuat dari sagu yang diolah dengan cara dibakar. Tidak ada dange dikonsumsi bersama nasi hangatpun tidak kalah enak. Ahh... jadi lapar... :Q


Berbicara tentang kandungan gizi, berikut adalah kandungan gizi per 100 gram Pacco :

Energi: 233 kkal
Protein: 27 gram
Lemak: 11 gram
PUFA: 4 gram
Karbohidrat: 10 gram
Vit. C: 18 mg
Vit. A: 460 μg


Dari kandungan gizi di atas, bisa kita lihat bahwa kandungan PUFA (polyunsatureated fatty acid) pada sajian ini cukup tinggi yaitu sekitar 4 g/100 g. Sebagaimana yang sudah diketahui, salah satu jenis PUFA yang banyak terdapat pada ikan laut adalah omega-3.
Omega 3 adalah salah satu zat gizi esensial, artinya tubuh kita tidak bisa meproduksi sendiri sehingga perlu asupan dari luar. Soal manfaat, omega 3 ini memiliki sangat banyak manfaat bagi tubuh mulai dari perkembangan otak pada anak, antiinflamasi, untuk mengurangi penuaan fungsi kognitive, dan masih banyak lagi.

So, pacco ini bisa jadi alternatif bagi ingin mengolah ikan laut dengan cara yang beda. Bahan dan cara pengolahan yang sangat sederhana, kandungan zat gizi yg oke punya, dan sensasi mengonsumsi ikan mentah yang unik. Selamat mencoba...