Sabtu, 22 Desember 2018

Bukan Review Milly Mamet


Wow, draft yang sudah hampir seminggu tak kulanjutkan karena ya ku malas. Bukan cuma malas sih sebenarnya tapi sekarang ga jago nulis panjang-panjang. Hiks. Seringnya nulis status wasap doang sih satu-dua kalimat. Hhhhhh.

Karena habis nonton film Milly-Mamet yang sangat relate sama topik tulisan ini trus ditambah lagi ini adalah Hari Ibu Nasional jadilah kepikiran sama tulisan ini. Oh iya, tambah ke-trigger pengen nulis lagi karena liat postingannya Tasya Kamila ttg kehamilan dia dan pertanyaan “Tasya kan sekarang hamil, merasa pendidikannya sia-sia gak sih?”. Wow, sunggu pertanyaan yang sangat dangkal pengen ku-sleding kepala sang penanya. Hubungannya kehamilan sama pendidikan yang sia-sia apa malih di kehamilannya Tasya ini? Sungguh ku heran.

Perdebatan tentang IRT VS Ibu Bekerja ini sepertinya topik yang akan terus ada sampai kiamat deh. Pokoknya tunggu ke-trigger aja pasti akan dibahas lagi dan lagi.

Topik ini sempat ramai di twitter sekitar seminggu lalu karena posting-an gambar wanita muslim bertoga dengan tulisan “Nanti Setelah Menikah, Kamu Maukan Jadi Ibu Rumah Tangga – Ikhlas gelar sarjananya nggak kepake? Ridho kalau kamu dirumah jaga anak-anak, dan menjadi sebaik-baiknya madrasah bagi mereka?”. Banyak yang ga setuju ternyata dan memberi komentar yang cukup keras pada postingan tersebut. Padahal ya kalau ga setuju ya tinggal jawab aja ya, ga mauuuu, hahahahah.

Dan ternyata IRT VS Ibu Bekerja ini bukan hanya di Indonesia loh yaaa. Di luar sana juga ada orang-orang yang memperdebatkan masalah ini. Dan entah mengapa, ku lebih terganggu liat flow chart ini dibanding postingan "Setelah menikah mau kan jadi ibu rumah tangga?".



Sumber gambar: Boredpanda.com

Jadi, menurut saya yang sebenarnya ganggu itu adalah orang-orang yang nge-judge ibu-ibu dengan pilihan hidup mereka masing-masing, menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja. 

Oh iya, saya juga mau ngutip kata-katanya mb Tunggal Pawestri "Stigma-nya yang harus dibongkar terus. IRT dianggap tak berdaya tapi mulia. Lalu working mom dianggap gak bisa urus anak dan gak bisa jadi 'madrasah' bagi anak. Kedua stigma ini sama-sama kudu dipreteli."

Yup, betul sekali. Ibu bekerja sering kali dianggap ga bertanggung jawab karena lebih milih pekerjaan dan karir dibanding urus anak sendiri, sedangkan ibu rumah tangga sering dinilai lemah, cuma bergantung pada suami, dan menyia-nyiakan gelar pendidikan. Ayo, adakah yang masih ber-stigma seperti ini terhadap ibu-ibu di luar sana?

Intinya buat ibu-ibu masa kini semangat ya! Jangan pusingi komentar-komentar julid di luar sana dan jangan lah pula julid ke sesama ibu-ibu yang memilih "jalan" yang berbeda dengan kalian. Jadi ibu itu sudah berat kan ya? Jadi tak perlu ditambahkan dengan komentar atau sindiran tentang menjadi IRT atau Ibu Bekerja. Who are we to judge?

Btw, mumpung tadi sempat nyinggung Milly Mamet, (spoiler alert) saya sebenarnya agak kurang setuju sih sama Mamet waktu dia marah sama Milly karena telat pulang kantor (di mana kebetulan bayinya lagi rewel jadi bapaknya bingung) dan bilang "Kamu harusnya diam aja di sini" (cmiiw yah, agak lupa dialognya). Padahal kan sebenarnya Mamet sudah ngizinin untuk Milly kerja lagi. Sudah gitu aja.




Rabu, 19 September 2018

Menghargai Titel


Beberapa minggu yang lalu teman kerja dari bagian lain minta nama lengkap, biasalah buat ditaruh di undangan nikahan. Ku tulislah nama lengkap pemberian Ayah Ibuku, “titelnya mana?” tanya temanku. “Iya, masa sudah capek-capek sekolah titel-nya ga dicantumkan?” imbuh temanku yang lain.

Gelar akademik atau titel, yang ternyata dari bahasa Belanda ku baru tau, adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademik bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi (sumber: wikipedia).

Lanjut tentang undangan nikahan tadi, banyak yang berpendapat bahwa penulisan gelar itu sangat perlu untuk menghargai yang kita undang. Menghargai titel mereka yang sudah susah-susah kuliah untuk mendapatkan suatu titel.  Bahkan di undangan-undangan ada tulisan “Mohon maaf jika ada kesalahan pada penulisan nama dan gelar”.

Pertanyaanku, benarkah dengan mencantumkan titel pada nama di setiap kesempatan adalah suatu bentuk penghargaan terhadap titel tersebut? Tentu ini subjektif sekali ya. Saya tidak ada masalah dengan orang-orang yang berpendapat kalau menulis titel di undangan pernikahan itu sangat penting. Namun bagi saya pribadi, saya merasa hal itu tidak perlu. Mencantumkan titel pada nama menurut saya sih hanya diperlukan saat kita bersinggungan dengan dunia akademis atau dunia kerja. Malah kayaknya orang-orang yang kerja di bidang kreatif sudah jarang sekali ya mencantumkan titel mereka.

Tentang menghargai titel, menurut saya ini adalah beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk menghargai “susah-susah kuliah” kita, selain sekadar mencantumkan titel di undangan.

1. Bekerja dengan baik dan benar.
Apalagi kalau kita memang kerjanya sesuai dengan jurusan masing-masing. Bekerja dengan baik dan benar ini adalah cara menghargai titel kita dengan sebenar-benarnya. Secara tidak langsung juga menghargai almamater kita. Kan kasian ya kalau kerja kita ga bagus trus kampus kita jadi dibawa-bawa sama atasan atau rekan kerja atas kesalahan kita.

2. Rajin meng-update ilmu pengetahuan. 
Khususnya yang berkaitan dengan gelar akademis kita. Sarjana yang memilih menjadi Ibu rumah tangga sekalipun menurut saya juga harus update deh. Ga usah yang ribet-ribet sampai harus langganan jurnal gizi nasional. Tau macam-macam diet yang lagi tren di masyarakat, super-food yang sedang tren, atau artis siapa lagi diet apa, hahahahh. Ini sesuai bidang masing-masing saja sih. Bagi yang bekerja sesuai dengan jurusan masing-masing saat kuliah, hal ini juga sangat berkaitan dengan poin pertama. Rajin baca, sesekali ikut seminar atau pelatihan, atau sekedar berbagi ilmu di forum-forum on line.

3. Tidak menyebarkan hoax.
Ini penting banget nih. Apalagi kalau informasi hoax yang kita dapat itu masih berhubungan dengan bidang keilmuan kita. Saya baru-baru ini nyebarin hoax tentang formasi CPNS di POLRI, huhuhuu, aku merasa gagal sebagai duta anti hoax RT RW. Untungnya cepat tau dan segera meralat informasi ke teman yang sudah terpapar, hahaha (((terpapar))).
Kalian ada ga sih WA grup yang isinya ya orang-orang bertitel tapi ga jarang nyebarin hoax. Huft. Mau diluruskan kok ya agak ga enak ya apalagi yang share itu senior kita. Berhenti di kamu aja ya guys hoax-nya, jangan diteruskan.

Btw, tulisan ini saya buat bukan untuk menyinggung orang-orang yang sangat mementingkan titel di setiap kesempatan. Serius deh, itu sangat tidak apa-apa, terserah, dan bebas. Tulisan ini tuh sengaja saya tulis juga untuk mengingatkan diri sendiri. Supaya kerja ga asal-asalan, rajin-rajin baca artikel ilmiah terbaru, dan rajin mengecek setiap informasi yang diterima supaya tidak menjadi bagian dari penyebar hoax. Ya walaupun yang tidak kuliah atau masih di bangku sekolah juga harus ambil bagian #hantamhoax.

Untuk penutup, jadi ingat celetukan seorang teman waktu itu kalau liat undangan nikah dengan nama mempelai lengkap dengan titelnya “Itu undangan nikahan pakai titel, emang mau presentasi paper pas resepsi?”. Hahahah. Dasar temanku jomblo nyinyir, sirik aja :p

Jumat, 16 Februari 2018

Nonton Sendiri Itu Tidak Aneh

Apa anehnya nonton sendirian? Tidak ada.
Ya, tidak ada yang aneh dengan orang-orang yang hanya membeli satu tiket nonton di bioskop untuk dirinya sendiri. Soalnya sering sekali teman-teman saya ngatain saya aneh karena saya sering ke bioskop untuk nonton sendirian. Plis lah, tidak ada yang aneh dengan saya. Apa lo, apa lo.
Sebelum ngatain saya “Dasar Jomblo Sok Mandiri”, sini kuberitahu kalian beberapa keuntungan dari nonton sendirian:


Tidak akan terlambat masuk ke bioskop akibat nungguin teman.
      Saya tidak suka telat masuk ke dalam studio bioskop. Selain merugikan diri sendiri akibat tidak menonton beberapa menit adegan pembuka, telat masuk juga merugikan orang lain yang nonton. Kan males ya lagi asik nonton trus segerombolan orang tiba-tiba lewat depan kita, aih resek. Merangkak woi, merangkaaakkk! Nah, kalau nonton rame-rame biasanya gini nih kasusnya. Ku tak suka tunggu-tungguan. Saya mending masuk duluan deh trus nanti terpaksa keluar lagi jemput teman dari pada nungguin untuk masuk bareng. Apalagi kalau ini film yang sangat ingin ku tonton.


Kemungkinan kecil untuk kehabisan tiket.
      Saya ingat banget dulu mau nonton Inception tapi selalu kehabisan tiket. Sebenarnya ada sih tapi paling tinggal dua atau tiga. Kalau pergi ramean sama your geng, pasti agak kurang ajar ya kalau bilang “Eh, saya aja ya yg nonton. Kalian tak usah dulu”. Muahahahh. Jadinya saya nonton sendirianlaahhh... Dapat tiket walaupun depan banget Ya Allah, leherku sakit nonton inception mana berat dan lama pulak filmnya.


Bebas pilih film yang mau kau nonton, seaneh apapun film itu.
      Film terakhir yang kunonton sendirian adalah The Greatest Showman, beruntung masih sempat nonton film bagus-epic-suka-sekalilah-sama-soundtracks itu. Besoknya, filmya sudah turun layar. Ya nasib tinggal di kota kecil dengan bioskop cuma satu. Coba ku tunggu sampai ada teman yang mau nonton film itu juga, filmnya sudah keburu turun layar. Nonton Marlina: Pembunuh dalam empat babak juga sendiri karena “Idih, film apa itu?” adalah reaksi temanku saat kuajak nonton. Hahahah. Padahal filmya apik sekali T.T


Menghayati film sepenuh hati.
      Iya, walaupun saya suka nonton film sendiri, saya juga tidak jarang nonton bareng sama teman-teman. Kalau nonton dengan orang lain, biasanya saya juga mengomentari film bareng teman. Apalagi waktu nonton Dilan kemaren, eettt dahh! Berisik banget kami ngomentarin gombalannya Dilan, hahahah. Saya tidak terlalu merasa bersalah agak berisik di bioskop soalnya nontonnya juga bareng penonton-penonton “berisik” lainnya.
Kalau kamu nonton sendiri, tak bakalan adalah itu ngomentarin “Aktingnya Tantowi Yahya kayak lagi mau bawain kuis yah!” pas nonton Eiffel I’m In love 2 kemarin.
Coba kamu nonton sendiri, mungkin kamu bakalan nangis pas Tita akhirnya dilamar sama Adit, soalnya kamu menghayati kesedihan tita yang udah LDR dengan cowok posesif selama 12 tahun tapi ga dilamar-lamar. Mungkin loh.

      Bebas kalau mau nangis.
Ya itu, kalau nonton sendiri kamu ga bakalan malu kalau nangis pas adegan Tita dilamar Adit atau adegan Milea dan Dilan memproklamirkan cinta mereka. Iya, bikin kamu pengen nangis karena Kamu Jomblo. Kamu kasihan sekali. Sudahlah tak usah sedih! Etapi saya kalau nonton rame-rame juga ga bakalan malu kok kalau mau nangis. Nangis mah nangis aja,

Itulah manteman beberapa keuntungan kenapa saya tuh suka nonton sendiri. Nonton sendiri adalah pilihan. Jangan takut bakalan ditanyain “Kok nontonnya sendirian aja mb/mas?” sama petugas tiket bioskop. Mereka ga sekepo itu kok, paling mereka hanya ngomong dalam hati. Hahahahh. Atau untuk pasangan yang pengen nonton tapi ga ada yang jagain anak. Bisa kali gantian nonton dan jaga anaknya, sekalian me time begituh :p


Jangan sampe kelewatan nonton film yang ingin sekali kamu tonton hanya karena alasan “Ga ada yang temenin nonton”. Ah elah... Ingatlah, nonton itu bukan main badminton yang butuh dua orang baru bisa main! 

Selasa, 13 Februari 2018

Be Grateful

Siapa dulu yang waktu masih kecil sering dibilangin “Kamu ga liat itu anak2 di Afrika banyak yg kelaparan tapi kamu malah ga habis makannya”. Alhamdulillah saya kayaknya nda, nasi ku selalu habis. Makan nasi lauk gula pasir aja habis kok. Banyak makan sejak dulu, hahahah.

Kalau sedang mendapat keberuntungan atau hal-hal yang baik bersyukur tuh seperti otomatis. Tapi kalau lagi biasa-biasa aja atau malah dapat musibah, bersyukur juga ga?

Bersyukur sambil melihat ke bawah. Seberapa sering sih kita kalau sedang di titik terendah kehidupan *halah*, kita sering diingatkan atau mengingatkan diri sendiri kalau masih banyak manusia yang hidupnya jauh lebih susah atau lebih menderita dari kita? Kalau lagi mikir “Yaelah, hidup kok gini-gini aja ya?”, kemudian ada yg berbisik “Hey, kamu harus bersyukur. Banyak wanita di luar sana yang pengen kerja tapi ga dibolehin sama suaminya”.  Atau kebalikannya, ibu-ibu yang sudah butek ngurusin kerjaan domestik kayak Mpok alfamart mungkin ada yang bisikin “Hey, kamu harus bersyukur, banyak jomblo di luaran sana yang pengen nikah tapi, ah sudahlah” *Iyaaa, saya nda tersinggung...

Makanya itulah saya kadang mikir, kalau saya jadi anak Afrika atau Papua yang bisa terancam mati karena kelaparan kapan saja, saya bersyukurnya gimana ya?

Padahal Allah bilang loh “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku akan sangat berat”

Bisakah kita bersyukur tanpa melihat ke bawah?  Bersyukur sambil tetap memandang lurus. Bersyukur tanpa embel-embel. Be grateful with no terms and conditions.
Bersyukur yang tulus kepada Sang Pencipta. 

Belajar ah sekarang, sedikit-sedikit. Pelan-pelan.

Kamis, 14 September 2017

Menikah dan Tujuan Hidup

Beberapa waktu yang lalu, sepupuku bilang  “Nikahlah Wa! Kalau kamu nikah hidupmu bakalan lebih terarah, tujuannya bakalan lebih jelas”

Isu nikah di usia kayak saya ini emang greget banget sih, hahahh. Orang-orang greget pengen saya nikah dan saya greget sama orang-orang yang nyuruh-nyuruh nikah. But, bukan itu yang pengen saya bahas. Saya mau bahas soal pernyataan sepupuku di atas “Nikah bakalan bikin hidupmu lebih terarah dan tujuan lebih jelas”. Memang iya?

Btw, sepupuku yang membuat pernyataan di atas adalah seorang ibu 2 anak. She’s a working mom with excellent career. Lagi nyusun disertasi S3 pulak. Hebat pokoknya and I’m proud of her! Dia mah nikah muda soalnya calonnya waktu itu udah kebelet nikah dan terkejar usia  (hahaha, kidding sist!). Saya yakin, kalaupun dia ga nikah muda saat itu, dia akan tetap punya karir yang cemerlang dan mungkin lanjut sekolahnya ke luar negeri.

Hidup yang lebih terarah dan punya tujuan jelas itu bukan milik yang sudah menikah. Selain punya anak, apa tujuan hidup pasangan menikah yang tidak bisa jadi tujuan orang yang belum menikah? Yang single trus tujuan hidupnya juga punya anak bisa kok, lol! Kecuali tujuan hidupmu murni “Menjadi istri yang baik” mungkin memang harus nikah dulu baru bisa terwujud.

Mungkin ada yang tidak dapat membedakan tujuan dan kewajiban. Menikah itu bukan bikin tujuan hidup lebih jelas tapi bikin sederet kewajiban baru. Sebelum menikah kita punya kewajiban jadi anak yang berbakti, warga negara yang baik, atau karyawan yang patuh. Bikin pasangan bahagia, anak terawat dan terdidik dengan baik di rumah mah bukan tujuan yah, itu lebih ke kewajiban. Mudah-mudahan, menikah tidak malah membuat lupa dengan kewajiban yang lain dalam kehidupan.

"Menikah tuh bikin lebih semangat kerja", agar cicilan rumah terbayar dan biaya pendidikan anak terpenuhi? itu mah kewajiban ya sodara-sodara. Siapa setuju? ;p

Intinya, para single ladies ayo kita buktikan bahwa kita tuh punya tujuan hidup jelas dan terarah! Muahahhah.

Dan buat yang sudah nikah, mari kembali menelaah perbedaan kewajiban dan tujuan hidupmu. Apa jangan-jangan malah ga punya tujuan hidup? Ya gapapa sih, terserah yang menjalani kehidupan.






Sabtu, 29 Juli 2017

Makan dan Ponakan

Sudah 2 malam ini berhasil mendudukkan ponakanku di meja makan untuk makan malam.

Yes, kayaknya saya terobsesi bikin anak kecil duduk rapi makan di meja makan, baik itu disuap ataupun makan sendiri kalau sudah bisa. Dulu, dosenku pernah cerita kalau dia tega bikin anaknya lapar kalau anaknya menolak makan dengan tertib dan tepat waktu di meja makan. Waktu itu mikirnya, iya ah, ntar kalau punya anak saya bakalan kayak gitu.

Obsesi bertambah besar setelah nonton reality show korea "Appa Odiga" dan "The return of Superman". Kalau Appa Odiga, anaknya kan sudah lumayan besar untuk bisa makan sendiri di meja makan. Sedangkan di TROS, anaknya masih usia balita dan mereka bisa tertib makan di high chair. Ku kagum sekali.

Semua pecinta tayangan korea pasti tidak ada yang tidak mengenal Song Triplet Daehan-Minguk-Manse. Usia mereka 27 bulan ketika pertama kali bergabung dengan reality show TROS. Saya pun jadi penggemar mereka bertiga. Dan yg membuat saya jatuh cinta sama adalah saat mereka makan.

Di episode pertama mereka ada adegan mereka sarapan. Bisa gitu ya, anak2 usia 27 bulan, inisiatif duduk sendiri di high chair, menunggu sarapan mereka disajikan, dan makan (fokus makan tanpa ngapa2in) dengan tenang dan tertib. Ayah mereka pasang alarm 30 menit sebagai penanda mereka harus makan dalam kurun waktu itu. Sarapan mereka pun menunya ada "daun-daun"nya, hal yg paling ga disuka sama anak kecil. Setelah nonton beberapa episode mereka, bisa diambil kesimpulan : Mereka senang sekali makan dan suka sekali sama makanan.

Panjang ya kayaknya kalau mau bahas kenapa mereka sangat tertib saat makan dan mereka cinta sekali sama makanan. Saya tidak akan bahas itu, soalnya ga kompeten dan bahasannya pasti cuma asumsi-asumsi, hehehehh. Harusnya Song Il Kook dan Jung Seung Yeon jadi ahli parenting nih kayak seleb2 di Indonesia :p

Balik lagi ke ponakan. Usaha saya membuat ponakan-ponakan saya duduk rapi dan makan, tidak sambil lari-larian beberapa kali saya coba kalau saya sedang ada kesempatan. Dan biasanya gagal, hahahh.

Dan sudah 2 malam ini saya berhasil bikin satu ponakan saya makan di meja makan. Happy dan bangga, hahahah. Yang satunya mah tetep, makan di tempat tidur depan tipi sambil tiduran T.T.

Intinya gitu, saya jadi terobsesi bikin anak kecil mau duduk dan makan dengan tenang. Tadi, segala macam mainan saya jejerin dekat meja makan. Sambil suapin, sambil jagain tangannya ga nuangin air kobokan di piringnya, sambil cerita dan puji2 kalau dia anak yg hebat kalau makan. Capek ya. Baru aunting padahal, belum parenting. Muahahahh.

Punya obsesi cara "mengasuh" anak itu sah-sah saja kan. Entah nanti bisa  terealisasi atau tidak. Belajar dulu tuh diterapkan di ponakan, ya kan? Hehehh.

Ya ampun, kumerasa tua menulis hal nyerempet parenting2 beginih.





Jumat, 21 Juli 2017

Log Out

Sudah 3 hari sejak terakhir saya membuka Instagram, sekitar 8 bulan mengabaikan akun-akun di twitter, dan sekitar 4 atau 5 tahun (lupa) men-deactive akun facebook.

Waktu akun fb saya deactive, saya memang sepenuhnya beralih ke twitter. Waktu itu dunia twitter memang sangat aktif dan seru sekali. Sampai saya merasa dunia twitter sudah sangat berbeda dengan waktu pertama kali punya akun di twitter. Timeline isinya hanya melulu adu argumen, tak lucu-lucu lagi lah pokoknya. Akhir tahun lalu akhirnya log out dan sampai sekarang belum log in lagi.

Nah, alasan saya kali ini untuk mencoba survive (lebayyy) tanpa instagram adalah instagram itu sangat menyita waktu dan menyedot kuota (hahahahh). Tujuan saya biasanya membuka instagram  bukan lagi seperti tujuan awal yaitu untuk melihat foto-foto Bu Ani Yudhoyono (yes, Bu Ani adalah alasan saya dulu membuat akun instagram :D). Instagram sekarang terlalu banyak drama (dan agak susah ya untuk tak ikut kepo :p), hoax, dan jokes receh (tapi suka juga sih, apalagi drama-ojol, hahahahh). Saya akan tetap sesekali mengunggah foto di instagram tapi habis itu langsung log-out lagi mungkin yah, takut khilaf.

Hari ke-3 tanpa sosial media sama sekali dan saya merasa baik-baik saja. Nyaman malah, tidak terdistraksi, lebih fokus, dan tentu saja hemat kuota kakak...

Tanpa sosial media juga membuat blog saya yg hampir 3 tahun terabaikan jadi up-date kembali. Berfaedah bukan? Eh, blog ini tergolong media sosial bukan sih?

Selasa, 18 November 2014

Naik Motor Ke Minimarket

Pagi itu saya pergi ke minimarket dekat rumah. Jaraknya lima menit berjalan kaki, mungkin sekitar 150 m. Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya berpapasan dengan tetangga saya. Rumahnya persis di sebelah rumah saya. Ia mengendarai motor dengan kecepatan rendah sembari melipir di pinggir jalan. "Mau ke mana Kak?" sapaku, "Ke Indomaret" jawabnya sembari menunjuk tujuannya, menyebutkan nama minimarket yang baru saja saya datangi. "Jalan kaki dong Kak...", kataku sambil cengengesan. Iya, saya mencoba menyampaikan kalimat itu dengan nada bercanda tapi saya sangat serius mengatakannya. 

Pemandangan seperti yang saya alami barusan mungkin bukan hal yang langka. Naik motor untuk menempuh jarak 100-200 meter merupakan hal yang sangat lazim dilakukan. Motor sudah seperti pengganti kaki. Sacha Stevenson pun sudah pernah memarodikannya di "How To Act Like Indonesian" entah episode berapa. Ya, saking melekatnya kebiasaannya itu dengan sebagian orang Indonesia. Di parodi itu Sacha ceritanya naik motor ke penjual bakso yang ternya cuma berjarak 10 meter dari tempatnya semula berdiri, hahahahh. 

Apakah hal ini hanya terjadi di daerah kota? Bagaimana dengan desa? Apakah desa masih seperti gambaran FTV-FTV yang masyarakatnya masih jalan kaki atau bersepeda kemana-mana? Beberapa bulan lalu saya pergi ke kampung ortu. Sekitar 7 jam ke arah utara dari kota Makassar jika ditempuh menggunakan bis. Pemandangan manusia mengendarai sepeda adalah hal yang sudah langka di sana. Semua orang menggunakan motor sebagai sarana transportasi sehari-hari. Belanja ke pasar, antar anak ke sekolah, pergi ke sawah dan kebun, bahkan dengan jarak yang sangat dekat pun semua dilakukan dengan mengendarai motor. Bahkan saudara saya ke warung yang hanya terpisah empat rumah pun naik motor. Hahahahh *ketawa miris*. "Orang di kampung sudah tidak ada lagi yang mau jalan kaki, malu!" kata tanteku, entah pernyataan itu serius atau bercanda. 

Hari ini harga bahan bakar untuk kendaaraan bermotor kembali dinaikkan. Masing-masing premium dan solar naik Rp2000 dari harga sebelumnya. Namun, saya tidak yakin orang-orang yang selalu naik motor dalam jarak dekat akan beralih ke jalan kaki. Sudah banyak kampanye yg dilakukan untuk mengurangi kemacetan dan emisi karbon. Ada Bike to work, beralih dari kendaraan pribadi ke umum, sampai nebeng-menebeng kendaraan. Tidak, saya tidak akan mengajak anda sekalian untuk ber-bike to work atau beralih ke kendaraan umum. Toh, kendaraan umum di daerah Sulawesi Selatan juga belum bisa diandalkan (apalagi di daerah pedesaan, hampir tidak bisa diandalkan). Saya cuma mengajak untuk berjalan kaki/bersepeda ke minimarket/pasar/konter pulsa atau apa saja yang jaraknya dekat dengan rumah. Tujuannya: mengurangi kemacetan di perempatan/pertigaan kecil dekat rumah masing-masing, irit bahan bakar, olahraga, bisa sapa-menyapa dengan tetangga yang kebetulan sedang di teras/halaman. Toh, waktu yang dihabiskan kalau kita berjalan kaki/bersepeda dibandingkan naik motor paling cuma beda beberapa menit. Kita bukan orang Jepang kan yang janjian sampai ditentukan menitnya, huehehehh. Saya tidak tahu cara menghitungnya, tetapi sepertinya akan cukup banyak bahan bakar yang bisa dihemat jika semua orang di negara ini mau berjalan kaki/bersepeda ke minimarket dekat rumah :D

Minggu, 09 Maret 2014

Daftar Lagu Suka Suka: Album Kedua Tulus

Covernya mirip-mirip sama album pertama, hanya ada tulisan Tulus + foto Tulus tapi kali ini tampak kanan plus dominasi biru tua. Album ini saya beli beberapa minggu lalu di Disc Tarra. Melenceng sedikit, Disc Tarra yang saya datangi di salah satu mall di Makassar luasnya mungkin tinggal 1/3 dari terakhir yang saya ingat. Tergerus zaman dan pembajakan. Saya pun sudah lama sekali tidak membeli CD, terakhir entah berapa tahun yg lalu waktu membeli album pertama Bruno Mars. Lanjut.

Album yang diberi judul gajah, seperti salah satu judul lagu di Album ini, memiliki 9 lagu di dalamnya. Masih di dominasi lagu-lagu tentang cinta tapi seperti biasa, lagu cinta Tulus biasanya agak beda. Entahlah, Tulus memang jago merangkai kata-kata untuk dijadikan lirik lagu. Favorit saya sendiri adalah track nomor 9. Hahahahh, kalau nanti jatuh cinta kayaknya saya mau seperti lirik lagu itu (curhatlah setiap ada kesempatan!).
Saya sendiri kurang mengerti maksud dari lagu yang dijadikan judul album Tulus kali ini. Tentang persahabatan, mungkin, tapi tetap saya tidak mengerti kenapa menggunakan metafor gajah. Ada juga penggunaan metafor sepasang sepatu untuk sepasang muda-mudi dan matahari untuk manusia-manusia yang berusaha mengejar passion (?). 

Secara keseluruhan, seperti album pertamanya, saya bisa menikmati hampir semua lagu-lagu di album ini. Jenis lagu yang beragam, lirik yang tidak biasa, suara yang menyenangkan.
Satu kata untuk album Gajah ini: berani!

Minggu, 26 Januari 2014

Daftar Lagu Suka Suka: Clazziquai Project

Ya, daftar lagu suka-suka kembali lagi minggu ini. Dengan playlist yang sama yang sudah saya putar selama dua minggu terakhir. Satu band, beberapa lagu dari beberapa album. Clazziquai Project, band yg beranggotakan 3 orang yang berasal dari Korea Selatan ini sukses membuat saya betah mendengarkan lagu yang tidak saya mengerti arti liriknya (baru belakangan saya cari tau arti beberapa liriknya).

Bagi para pencinta Hallyu, mungkin lagu-lagu mereka tidak asing lagi. Saya juga pertama kali mendengarkan lagu mereka dari sebuah soundtrack drama Korea , My Name Is Kim Sam Soon. Tapi baru beberapa tahun kemudian saya tahu (cari tahu lebih tepatnya) siapa penyanyinya. Ternyata lagu-lagu mereka memang cocok di telinga saya.

Menurut saya, lagu-lagu mereka memang berbeda dari K-Pop kebanyakan. Ya mungkin karena mereka memang band, bukan boyband atau girlband yang banyak disukai. Alirannya? Macam-macam kayanya ya, ada pop, jazz, reggae, ada juga elektro (wait, ini genre musik atau jurusan kuliah di fakultas teknik?).

Selain She Is dan Be My Love, lagu-lagu yang menjadi soundtrack di My Name Is Kim Sam Soon, lagu lainnya yang menjadi favorit saya adalah Romeo and Juliet, Hold Your Tears, After Love, Gentle Rain, Sweety, atau Love Recipe yang merupakan salah satu lagu di Album terbaru mereka.

Kalau belum pernah dengar atau tidak begitu menikmati lagu-lagu K-Pop bisa coba mendengar lagu-lagu mereka. Kalau tetap tidak suka dengan K-Pop, ya mau gimana lagi, selera memang tidak bisa dipaksakan. Saya ga bisa apa-apa lagi. Huft!

Btw, ini saya mau masukin video dari youtube kok gagal mulu yah? Huft lagi!

Minggu, 05 Januari 2014

Daftar Lagu Suka Suka

Namanya juga suka-suka ya, di-posting-nya juga suka-suka waktunya (padahal kemarin-kemarin lupa!). Lagian yah, beberapa minggu kemarin itu playlist saya sepertinya juga tidak berubah. Itu-itu saja. Ayo, berapa rekor terlama playlist Anda tidak berganti? Banyak alasan orang tidak mengganti playlistnya dalam jangka waktu yang cukup lama. Lamanya juga relatif sih. Kalau saya biasanya karena memang tidak punya lagu baru, malas nyusun playlist baru, atau memang sedang suka sama lagu yang itu-itu saja.

Aih, ini postingan jadi kemana-mana. Ini daftar lagu suka- suka saya minggu ini:

1. Tulus - Tulus + Single terbaru Tulus - Sepatu

Iya, playlist saya minggu ini memang cuma itu. Saya juga sampai bosan sendiri, hahahahh. Tulus ini salah satu penyanyi yang menurutku kalau lagunya dinyanyikan suara kita jadi ikut-ikutan (berasa) bagus (padahal sama aja, tetap standar atau jelek!). Lagu yang easy listening plus lirik yang menurut saya cukup berbeda dari lagu Indonesia kebanyakan sekarang membuat karya-karya Tulus seperti namanya, tulus *tsaahhh.

Minggu depan juga saya berencana akan menonton konsernya, makanya lagunya saya putar lagi sekalian dihapalin buat nyanyi bareng di konsernya nanti. Karena sesungguhnya, menonton konser secara langsung adalah sebetul-betulnya menyanyi bersama, hahahahh. 

Sabtu, 04 Januari 2014

#firsttime: Yoga

Pertama, saya mau mengucapkan selamat tahun baru buat seluruh umat manusia yang menggunakan kalender masehi untuk menentukan penanggalan sehari-hari. Selamat mengganti kalender baru lebih tepatnya. Ok, next.

Jadi, kali ini saya akan berbagi pengalaman pertama saya. Kali ini adalah pengalaman pertama yoga. Taukan yoga? Masyarakat urban dan kekinian pasti tidak asing dengan yoga. Entah sejak kapan yoga ini mulai jadi salah satu tren di kalangan masyarkat urban Indonesia. Saya sendiri sebenarnya sudah lama ingin mencoba salah satu jenis olahraga ini (hmm... plus olah jiwa dan olah napas juga kali ya?). Namun, mengingat harga yg dibayar untuk  sesi olahraga ini lumayan mahal bagi saya makanya saya  urung mencobanya. Mending buat makanlah duitnya. Buat apa olahraga mahal tapi jadi harus puasa Daud.

Ternyata di kampus saya ada fasilitas untuk melakukan yoga, dua kali seminggu, dan yang paling penting, gratis! Akhirnya tadi sore saya mencoba yang namanya yoga.

Dulu, setiap saya melihat orang-orang melakukan yoga, komentar saya: "Idih, apa olahraganya itu? Emang bisa keringatan kalau gitu-gitu doang?" Iya, gerakan-gerakan yoga yang terkesan minimalis dan tidak heboh seperti sajojo maupun poco-poco membuat saya menganggap remeh olahraga satu ini.

Lima menit, tuh kan, santai, bisa ini mah. Sepuluh menit, aduh, ini gerakannya bagaimana sih?
Tiga puluh menit, mandi peluh sodara-sodara!

Iya, yoga ternyata tidak seenteng yang saya bayangkan. Satu sesi yoga yang saya ikuti, keringat saya bercucuran seperti habis goyang sajojo dua putaran.

Seru sih, gerakan saya juga not badlah buat yang baru pertama kali yoga seumur hidup. Ya setidaknya saya bisa nahan ga kentut waktu gerakannya nungging2.

Setidaknya juga saya sudah cukup merasa kekinian setelah mencoba olahraga yg satu ini.


Jumat, 20 Desember 2013

Tentang Koruptor Kecil Berseragam Oranye

Korupsi. Siapa yang tidak benci dengan kata yang satu ini (kecuali koruptor dan teman-temannya). Namun, kadang secara sadar maupun tidak, kita sendiri yang membuat korupsi ini bisa tewujud. Saya beri satu contoh kecil namun sangat sering kita (atau saya) lakukan. Bayar parkir.

Saya sendiri seringnya sebal dengan tukang parkir. Apalagi tukang parkir dengan rompi oranye yang banyak di pinggir jalan. Entah mereka itu petugas parkir resmi atau bukan. Saya kasih satu contoh, misalnya di jalan Malioboro. Entah berapa puluh petugas parkir yang ada di sana. Saat kamu markir motor di sisi barat jalan, oleh seorang petugas parkir di sana kamu akan diberi sepotong karcis parkir. 

Modus korupsi pertama adalah biasanya kamu akan diberi karcis parkir bekas. Saya pernah beberapa kali diberi karcis bekas, namun kalau sedang ingin berdebat saya pasti protes dan akan meminta karcis yang baru. Biasanya petugas parkir itu akan kesal dan saya juga ga mau kalah pasang tampang jutek. Modus korupsi yang kedua, dan ini yang masih terjadi seakan-akan itu memang sudah lumrah dan bukan hal yang salah, adalah meminta bayaran yang lebih dari harga yang tertera di karcis parkir. Kalau di karcis parkir tertera Rp 1000 untuk motor, maka yang harus kita bayar ke tukang parkir adalah Rp 1500. Iya, dilebihkan 500 rupiah. Dulu, waktu di karcis parkir masih tertera Rp 500 untuk motor, saya biasanya membayar Rp 1000. 

"Bukan permisif, anggap saja sumbangan buat tukang parkirnya. Toh, cuma lima ratus perak ini!". Iya, kalau cuma satu motor. Kalau seribu? Trus jangan lupa kalikan 30 kali dalam sebulan. Itu bukan angka yang sedikit. Coba deh kamu berdebat dengan tukang parkirnya, paling dikatain pelit. Hanya karena lima ratus rupiah. 

Itu baru tukang parkir yang ada karcisnya, yang ga pakai karcis? Lebih banyak lagi. Mereka ini, ga peduli kamu markir cuma beberapa detik pasti akan dimintai uang parkir dan tak ada karcis parkir sama sekali. Mereka juga kadang jago, muncul hanya beberapa detik sebelum kau beranjak dari tempatmu memarkir kendaraan. Dan... tukang parkir ini ada di mana-mana. 

Ini bukan masalah 500 atau 1000 rupiah. Melainkan mengapa kita sangat permisif untuk membiarkan mereka mengambil uang kita yang bukan haknya. Para tukang parkir ini merasa bahwa itu memang kewajiban kita, memberikan 1000 rupiah kepada mereka. Dan kita merasa ini bukan hal yang salah. "Jangan naik kendaraan pribadi kalau tidak mau bayar parkir!", bukan, bukan itu masalahnya. Saya lebih rela membayar lebih mahal asalkan saya diberi karcis parkir resmi dan membayar sesuai dengan harga yang tertera. 

Saya jadi curiga, jangan-jangan korupsi di Indonesia ini ga bisa berhenti karena memang kita yang permisif. Apalagi untuk koruptor-koruptor kecil berseragam oranye ini.

Selasa, 17 Desember 2013

Tentang Buku Bacaan Untuk Anak Kelas 5



Saya punya adik bungsu yang sekarang duduk di bangku kelas 4 sd, namanya Muthia. Sebagai kakak, saya pengen adik saya ini tidak seperti kakak-kakaknya yang lain. Tidak, saya tidak ingin adik saya pintar dan jenius, saya cuma ingin adik saya ini punya niat membaca yang cukup baik. Saya sendiri bukan tipe penggemar membaca buku (buku bacaan selain buku teks wajib dari sekolah) waktu seumur Muthia. Waktu kecil saya cuma ingat sempat punya satu set buku cerita tentang lumba-lumba yang berwarna-warni. Selebihnya, saya tidak ingat lagi. Oh iya, saya juga ingat tentang buku sejenis ensiklopedia, tapi itu punya teman saya. Keren sekali rasanya buku itu, rasanya semua hal di dunia ini ada di buku itu (Ingat, waktu itu belum ada wikipedia). Niat membaca buku-buku bacaan baru mulai timbul ketika SMA. Saya membaca Totto Chan dan Sang Alkemis. Sampai sekarang pun, saya lebih sering membaca novel. Oh, saya juga ingat (entah waktu sd atau smp) saya sering membaca beberapa buku seri Goosebumps. Jangan lupa juga buku serial Lupus yang waktu itu bisa bikin saya ngakak ga karuan. Oke, kembali ke adik saya.

Sejauh ini, saya belum pernah melihatnya membaca buku selain buku teks sekolahnya. Itu pun (mungkin) dibaca ketika sedang mengerjakan PR, hahahh. Buku komik pun sepertinya tidak pernah dibacanya, padahal di rumah saya cukup banyak komik koleksi adik-adik saya. Saya jadi berpikir, apa mungkin nanti kalau dia sudah cukup besar, niat bacanya akan muncul sendiri? Ya seperti dulu saya (walaupun niat baca saya muncul karena terpengaruh lingkungan dan pergaulan di luar sekolah waktu itu). Padahal untuk sekarang ini, di rumah (yah walaupun saya masih jadi anak rantau) sudah cukup ada contoh untuk dia memulai membaca buku. Ayah dan ibu saya sering membaca buku-buku agama, adik saya juga cukup sering membaca novel (masalahnya, dia kalau membaca di kamar jadi tidak kelihatan sama adik saya yang bungsu). Trus kenapa anak ini rasanya belum punya niat membaca ya? Belum cukup contoh dari orang rumah? Anaknya terlalu hobi main? Atau budaya membaca buku dari sekolah juga masih belum terlalu dipedulikan? Hmm... Let's not blame each other!

Nah, sebagai kakak yang peduli (atau obsesif?), saya ingin mengenalkan adik saya kepada membaca buku sejak sekarang. Nanti (kapan-kapan) akan saya tuliskan kenapa baru sekarang saya ingin adik saya mulai membaca buku-bukunya sendiri sejak dini. Mungkin di rumah saya ada beberapa buku yang bisa menjadi bahan bacaannya tapi karena itu bukan bukunya sendiri makanya dia merasa tidak punya keinginan ataupun keharusan membacanya. Saya lalu berinisiatif untuk membelikan dia buku bacaannya sendiri. Saya pun mencari referensi buku bacaan yang cocok untuk umurnya melalui internet. Masukkan "buku bacaan untuk anak kelas 5" ke kolom pencarian di google, tekan enter. (Kenapa kelas 5, bukan kelas 4? gapapa, biar ganjil aja! Toh, setahun lagi dia sudah kelas 5.)

Screen capture pencarian "buku bacaan anak kelas 5" di google
Tidak terlalu banyak membantu memang ya kalau kita memasukkan kata kunci bahasa Indonesia di kolom pencarian google. Ada di salah satu tautan yang memberi solusi untuk langsung ke toko buku saja untuk melihat langsung ke toko buku dan memilih sesuai selere. Baiklah. Selanjutnya, mari kita masukkan "Books for 5th graders" ke kolom pencarian, tekan enter.

Screen capture pencarian "book for 5th graders" di google
Voilah, ada banyak referensi yang bisa didapatkan dengan memasukkan kata kunci berbahasa Inggris. Ada dari goodreads, greatschool, atau public-library-ini. Oke, bagus. Masalahnya adalah karena semua tautan tadi berbahasa inggris, tentu saja buku-buku yang menjadi referensi adalah buku-buku yang berbahasa inggris pula. Okelah, beberapa mungkin sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia tapi kok itu buku kayaknya berat amat ya untuk adek saya? Mengingat dia yang pemula dan tidak terlalu tertarik dengan membaca. Apa saya saja yang merasa buku-buku itu terlalu berat untuk anak kelas 5? Soalnya saya ingat ada beberapa kenalan saya yg sudah membaca buku Bumi Manusia-nya Pram sewaktu dia masih SD. Ett dah, saya saja baru membacanya beberapa tahun yang lalu. 

Saya ingin mengenalkan si bungsu dengan buku yang ringan-ringan dulu tapi tetap sesuai umur dia. Mungkin akan lebih mudah kalau saya ajak dia langsung ke toko buku dan biarkan dia sendiri yang memilih bukunya. Sayang, saya sedang tidak di rumah saat ini. Apa beli buku sesuai hobi dan kegemaran dia sekarang aja apa ya? Buku-buku tentang Coboy Junior, Blink, atau Coboy Junior begitu? Ah... saya bingung!

*Foto paling atas saya ambil dari sini 

Minggu, 15 Desember 2013

Daftar Lagu Suka Suka

Daftar Lagu Suka Suka  minggu ini:

5. ABBA - SOS
4. SNSD - Day By Day
3. Ratu - Dimanakah Kau Ada
2. One Republic - Dreaming Out Loud (Album)
1. Mariah Carey - All I Want For Christmas Is You

Saya jarang mendengarkan penuh satu album penyanyi. Album Dreaming Out Loud ini salah satu album yang hampir semua lagu di dalamnya ku suka. Paling favorit sih Apologize dan Stop and Stare. "Stop and stare... I Think I'm moving but I go nowhere...", kayaknya tema album ini adalah masygul. Kayaknya.

Di urutan 4 ada Day By Day-nya SNSD. Ini video klipnya cute (saya yg cewek aja bilang cute, apalagi cowok-cowok ya ^^), atau gwiyomi kata orang Korea. Ya ya... saya memang salah satu dari berjuta manusia yang terseret Hallyu atau Korean Wave. Muahahahh.

Dan karena sekarang suasananya menyambut natal di mana-mana, saya jadi memutar salah satu lagu bertema natal yang saya suka. Menurut saya All I Want For Christmas Is You ini sebenarnya lebih ke lagu cinta sih dari pada lagu natal, bagi yang ga tau lagunya coba deh simak liriknya.

Minggu, 08 Desember 2013

Daftar Lagu Suka Suka

Dulu, hari minggu (atau sabtu) saya identik dengan acara musik baik di stasiun tv lokal atau radio. Ada Mtv Ampuh, Clear Top 10, err apa lagi ya? Acaranya jauh bedalah jika dibandingkan acara musik jaman sekarang. Lebih sederhana, to the point, dan ga berisik ga jelas kayak acara musik sekarang. Nah, supaya blog ini agak rajin diaktualkan isi walaupun sedang ga punya ide, saya tiap hari minggu mau posting playlist lagu aja. Bukan lagu-lagu baru tapi lagu-lagu yang sering saya putar di playlist saya selama seminggu kemarin. Bisa saja lagu tahun 80-an muncul di playlist saya. Suka-suka saya begitu! Jumlah lagunya juga suka-suka saya, bhahak. Jadi, mari kita mulai Daftar Lagu Suka Suka minggu ini:

11. Daniel Kim - Pop Danthology 2013
10. Daft Punk  - Get Lucky
 9. Norah Jones - Don't Know Why
 8. Ariana Grande ft. Nathan Sykes - Almost Is Never Enough
 7. Anuar Zain - Musim Berlalu
 6. Anuar Zain - Sesucinya Cintamu
 5. PSY - Gentleman
 4. Bruno Mars - Treasure
 3. Joanna Wang - Lost In Paradise
 2. Joanna Wang - How I Feel About Businessmen
 1. Joanna Wang - As Love Begins To Mend

Akhir- akhir ini playlist saya memang didominasi sama Joanna Wang. Lagu pertama Joanna Wang yang saya dengar di radio adalah Bada-bada. Lagu-lagu yang ada di playlist di atas juga bukan lagu-lagu baru. Kalau suka dengan musik jazz tapi juga masih ada unsur popnya atau pop tapi ada sentuhan jazznya (halah!), dengan suara yang agak berat dan syahdu, lagu-lagu Joanna Wang bisa jadi pilihannya. Kalau yang ada di urutan sebelas, itu mash-up lagu-lagu pop luar negeri yang rilis dan populer di tahun 2013. Lumayanlah pengetahuan lagu-lagu satu tahun cukup dirapel dalam 5 menit saja. Hahahh.

Demikian Daftar Lagu Suka Suka perdana minggu ini. Semoga bisa nambah-nambah ide kalau sudah bosan dengan playlist yang itu-itu mulu. Dan semoga saya bisa konsisten bikin postingan seperti ini tiap minggu. Amin.


Sabtu, 07 Desember 2013

Selamat Jalan Nelson Mandela


Kepergian Nelson Mandela menjadi topik hari ini. Seluruh dunia berduka dan merasa kehilangan dengan kepergiannya. Usia saya 5 tahun ketika Nelson Mandela menjadi Presiden Afrika Selatan. Saya lupa kapan persisnya pertama kali mendengar nama beliau, namun di ingatan masa kecil saya beliau adalah Presiden yang sangat dicintai rakyatnya. Melalui televisi saya tau dia salah satu tokoh hebat dunia tanpa saya tahu waktu itu apa alasannya. 

Setelah agak besar baru kemudian saya mengenal istilah Apartheid. Iya, inilah yang dulu diperjuangkan oleh Nelson Mandela. Saat negara kita sudah memproklamasikan kemerdekaan, Afrika Selatan masih menjalankan pemerintahan dengan sistem Apartheid. Saat semua di negara itu di pisahkan berdasarkan warna kulit dan ras, mulai dari tempat tinggal, tempat rekreasi, toilet, bahkan tempat duduk. Itulah yang kemudian diperjuangkan Nelson Mandela.

Saat kesedihan atas kepergian Nelson Mandela ini diungkapkan oleh sebagian besar orang di dunia online, ada pula bagian dari penghuni dunia online yang kemudian bingung dan bertanya "Siapakah Nelson Mandela?" "Mengapa banyak yang sedih dengan kematiannya?". Ya, ternyata ada beberapa yang belum mengenal sosok Mandela, dan sepertinya kebanyakan dari mereka adalah remaja. Awalnya saya pikir hanya di Indonesia saja ada bertanya "Siapa sih Nelson Mandela", ternyata abg-abg di luar juga ada yang tidak tau. 

Para orang dewasa kemudian banyak yang menyayangkan, saya pun. Hal ini kemudian berkembang menjadi diskusi (dan cibiran) bahwa abg-abg sekarang seakan tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti ini. Ada yang mengatakan kalau abg sekarang cuma tahu artis-artis saja dibandingkan orang-orang seperti Mandela. Iya, benar. Abg-abg itu mungkin salah, tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu padahal segudang informasi ada di genggaman mereka. Namun, kita lebih salah lagi kalau hanya diam dan mencibir mereka. Sebagaimana apa yang dikatakan Nelson Mandela "Education is the most powerful weapon", jadi, ketika kemudian ada anak yang bertanya "Siapa sih Nelson Mandela?" berikanlah mereka jawaban atau paling tidak cara untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka.

Selamat jalan Nelson Mandela, sekarang tugas saya untuk mengajarkan dan memberi contoh kepada adik-adik dan mungkin anak-anak saya kelak tentang siapa Anda dan apa yang telah Anda ajarkan kepada dunia.

Gambar dari sini



Kamis, 05 Desember 2013

16 Tahun Good Will Hunting



Hari ini, 16 tahun yang lalu, film Good Will Hunting rilis di Amerika. Oh, tentu saja saya tidak nonton pada saat itu. Tontonan film layar lebar saya waktu sd cuma sebatas Tutur Tinular. Banyak film-film bagus yang "Yaelah Bro telat banget" baru ku tonton bertahun-tahun setelah filmnya rilis. Salah satunya adalah film ini. Pertama kali nonton film ini waktu kelas 2 atau 3 SMA, entahlah saya agak lupa. Bersama film Education Of Little Tree, waktu itu saya nonton bareng dengan beberapa teman.

Beberapa waktu lalu, untuk kedua kalinya saya menonton kembali film yang dibintangi oleh Matt Damon, Robin Williams, dan Ben Affleck itu (saya baru nyadar belakangan kalau ada Ben Affleck di film ini -.-). Rasanya beda! Memang pengalaman hidup sangat berpengaruh ya terhadap sensasi dan rasa waktu menonton film. Samalah kayak sewaktu dengar lagu trus tiba-tiba nyeletuk "Nih lagu gue banget ini!", hahahah. Setidaknya itulah yang saya alami. Nonton film ini waktu SMA dibandingkan masa kini, film ini lebih terasa. Kalau dulu cuma perhatian tentang "pokoknya Will Hunting itu pinter walaupun ga sekolah tinggi2". Waktu kemarin nonton lagi, hal-hal tentang persahabatan, romansa, trauma psikis akibat masa lalu, memperjuangkan cinta, dan lain-lain semuanya dipikirin. Selain adegan dewasa, mungkin itu juga ya alasan kenapa film ada segmentasi umur :D. Ini kutipan favorit saya di film ini: "You wasted $150,000 on an education you could got for $ 1,50 in late fees at the public library" - Will Hunting. 

Sudah. Pokoknya yang belum nonton silahkan ditonton. Yang sudah pernah nonton tapi mau nonton ulang, silahkan tonton ulang. Siapa tau sensasinya beda!

foto dari sini

Minggu, 01 Desember 2013

Tentang Polisi Tidur

Saya yakin, semua orang yang membangun polisi tidur di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing tidak ada yang mempunyai niat tidak baik. Mereka berharap, dengan adanya polisi tidur maka jalanan di sekitar tempat tinggalnya akan lebih aman karena semua kendaraan yang melintas akan mengurangi kecepatannya. Polisi tidur buatan warga pun biasanya dibuat di tempat-tempat di mana banyak anak kecil bermain (maklum, tempat bermain gratis di luar ruangan untuk anak kecil semakin sedikit), ada tempat beribadah, atau pemukiman padat penduduk.

Namun, belakangan ini saya kok malah merasa sebal ya sama pembuat polisi tidur ini. Polisi tidur tambah banyak saja dimana-mana. Yah, mungkin karena pertumbuhan jumlah polisi tidur berbanding lurus dengan pertumbuhan kendaraan pribadi. Walaupun niatnya mungkin baik tapi kok saya sebagai pengguna jalan harus merasakan ketidaknyamanan yah? Apalagi dengan polisi tidur yang dibangun (atas inisiatif warga sekitar) di jalan utama (bukan gang atau kompleks perumahan). Mana kalau bangun polisi tidur sekarang ga main-main (ngasalnya). 

"Alah, jangan lebai deh. Kalau lewatinnya pelan-pelan kan ga papa!" Sekali- dua kali mungkin ga papa. Lah kalau tiap hari dan banyak? Di wikipedia tentang polisi tidur ini juga ada dibahas tentang dampak kesehatan polisi tidur yang tidak memenuhi ketentuan. Silahkan baca artikel ini juga kalau mau baca contoh kasus yang lebih banyak. Entah cuma saya atau ada yang lain juga yang perutnya merasa ga nyaman sesaat setelah melewati polisi tidur, padahal kecepatan kendaraan sudah saya turunkan. Apa mesti kendaraannya dimatikan kemudian didorong? Blah. Saya sering mikir kalau ada kendaraan yang sedang buru-buru membawa ibu yang mau melahirkan, kemudian melewati polisi tidur dengan tidak menurunkan kecepatan apa ibunya ga melahirkan sesaat ya? -.-.

"Ya tapi gimana dong? Kalau ga ada polisi tidurnya jadi pada ngebut. Kan bahaya banyak anak kecil dan pemuda?" (ini serius, di salah satu gang di Jogja ada plang peringatan untuk menurunkan kecepatan karena banyak pemuda). Huhuhh, saya kemudian bingung dan tidak punya solusi :(. Di sini memang tidak cukup sekadar menuliskan rambu-rambu untuk membatasi kecepatan kayaknya ya. Sama saja kayak marka jalan yang kayaknya cuma boros-boros cat putih. Mungkin, paling tidak membuat polisi tidur harus sesuai dengan ketentuan (ada di tautan wikipedia sebelumnya). Sayang di ketentuan itu saya tidak menemukan berapa jarak minimal antara satu polisi tidur dengan yang lain. Ada gang yang tiap 10 meter dibuatkan polisi tidur. Ada banget. Sebenarnya saya bisa banget loh protes kepada pembuat polisi tidur untuk menghilangkan polisi tidur yang dibuatnya. Silahkan baca penjelasan hukum tentang pembuatan polisi tidur di sini. Paling-paling disinisin "Kamu Geng Nero ya? Polisi tidur kan buat ngamanin jalan biar yang lewat pada pelan-pelan!". Ya begitulah.

Rabu, 27 November 2013

Mencari Karmila

"Karmila ada ga bu?" "Karmila-nya ada ga pak?" "Ada Karmila?"

Itulah saya beberapa hari lalu yang sedang berusaha mencari Karmila, novel pertama Marga T. yang terbit tahun 1971, di salah satu tempat membeli buku yang cukup terkenal di Yogya. Pertama kali berkenalan dengan Karmila waktu saya masih SD. Melalui sebuah sinetron yang ditayangkan di Indosiar saya mengenal Karmila dan Faisal, yang waktu itu diperankan oleh Paramitha Rusady dan Teddy Syach. Dulu jatuh cinta sama Teddy Syach juga gara-gara perannya sebagai Faisal (dulu ya, dulu...). Waktu itu musim banget ya kayaknya membuat sinetron yang diangkat dari novel-novel Indonesia (ah, nostalgia!). Bertahun-tahun setelah itu, entah apa yang membuat saya kembali teringat dengan Karmila. Saya kemudian membaca beberapa resensi tentang novel itu yang membuat saya jadi lebih tertarik untuk membaca novelnya. Baru beberapa hari yang lalu saya merealisasikan niat saya untuk mencari novel Marga T. itu. 

Apa yang membuat saya ingin membaca Novel Karmila? Waktu menonton sinetron Karmila waktu itu, saya masih SD (Yaelah, anak SD nonton sinetron. Ga heran gedenya hobi (nontonin) drama di kehidupan nyata XD). Pasti kapasitas berpikir pas saya SD dibandingkan sekarang pasti beda. Hmm, beda ga sih? Jadi ragu sendiri. Waktu itu saya jatuh cinta sama tokoh Faisal (toyor dah nih anak SD satu!). Lelaki brengsek yang menghamili Karmila yang akhirnya jadi sosok Ayah yang rela melakukan apa saja demi anaknya :'). Selain itu, melalui resensi yang saya baca, cerita di novel Karmila lebih kompleks karena adanya masalah agama. Seingat saya, waktu nonton sinetronnya tidak ada disinggung mengenai agama Karmila atau Faisal di situ. Apalagi dengan berlatar tahun 70-an pasti setting cerita di novel Karmila agak berbeda dengan novelnya yang bersetting 90-an. 

Sayangnya pencarian saya akan Karmila kemarin tidak berhasil. Kata penjual di beberapa kios, sudah lama sekali novel itu tidak ada. Ahh...
Ada yang tahu di mana saya bisa bertemu Karmila? Kalau ada kasih tau ya...